buku
Image and video hosting by TinyPic
Showing posts with label Biografi. Show all posts
Showing posts with label Biografi. Show all posts
Sunday, 3 March 2013

Cerita cinta Soekarno dan 9 istrinya


Presiden Soekarno tercatat memiliki sembilan orang istri selama hidupnya. Soekarno memang dinilai sebagai seorang Don Juan yang selalu mempesona wanita. Berkali-kali diakui oleh Soekarno, dirinya memang seorang pemuja wanita cantik.

Mantan Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko menceritakan Soekarno memang jagoan soal wanita. Kharisma Soekarno ditambah intelektualitas yang tinggi, membuat wanita-wanita bertekuk lutut.

Selain itu, Soekarno juga selalu bersikap gallant atau sopan dan hangat pada setiap wanita. Tak peduli wanita itu tua atau muda. Soekarno tak segan-segan mengambilkan minum sendiri untuk tamu wanitanya.

Soekarno juga selalu membantu memegang tangan wanita, jika wanita itu keluar mobil. Dia juga mengumbar pujian pada wanita. Hal ini yang selalu membuat para wanita tersanjung.

Berikut sembilan wanita yang bertekuk lutut dan dipersunting Soekarno. Diolah dari berbagai sumber oleh wartawan merdeka.com Laurencius Simanjuntak, Didi Syafirdi dan Ramadhian Fadillah.



1. Oetari Tjokroaminoto

Oetari Tjokroaminoto adalah istri pertama Soekarno. Soekarno menikahi Oetari tahun 1921 di Surabaya. Ketika menikah usia Soekarno baru 20 tahun sementara Oetari masih 16 tahun.

Oetari merupakan putri guru Soekarno HOS Tjokroaminoto. Soekarno menikahi Oetari untuk meringankan beban keluarga Tjokro. Kala itu istri Tjokro baru saja meninggal.

Soekarno tidak mencintai Oetari sebagaimana seorang suami mencintai istrinya. Begitu pula Oetari. Dunia pergerakan Soekarno dan dunia kanak-kanak Oetari terlalu berseberangan. Hubungan mereka pun lebih seperti kakak-adik.

Pernikahan Soekarno dan Oetari hanya seumur jagung. Soekarno menceraikan Oetari tak lama setelah kuliah di Bandung.



2. Inggit Garnasih

Soekarno kos di Bandung tahun 1921. Sejak awal pertemuan di rumah Inggit Garnasih, dia sudah mengagumi sosok Inggit yang matang dan cantik.

Soekarno berusia 20 tahun dan Inggit berusia 33 tahun kala itu. Pernikahan Inggit dengan Haji Sanusi pun tidak bahagia. Pada sosok Inggit Soekarno menemukan pelabuhan cintanya. Inggit begitu telaten melayani dan mendengarkan Soekarno.

Soekarno merebut Inggit dari Sanusi. Mereka kemudian menikah tahun 1923. Inggit mendampingi Soekarno dalam suka dan duka selama hampir 20 tahun.

Pernikahan Soekarno dan Inggit tidak dikaruniai anak. Tahun 1943, Soekarno menceraikan Inggit yang tak mau dimadu.




3. Fatmawati

Dalam pembuangan di Bengkulu, Soekarno bertemu Fatmawati. Gadis muda ini adalah putri tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Usia Soekarno dan Fatmawati terpaut 22 tahun lebih muda.

Hubungan dengan Fatmawati membuat pernikahan Soekarno dengan Inggit Garnasih berakhir. Inggit menolak dipoligami dan memilih pulang ke Bandung.

Tanggal 1 Juni 1943, Soekarno dan Fatmawati menikah. Soekarno berusia 42 tahun dan Fatma 20 tahun. Setelah Indonesia merdeka, Fatma menjadi ibu negara yang pertama. Dia juga yang menjahit bendera pusaka merah putih.

Dari Fatmawati, Soekarno mendapatkan lima orang anak. Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.



4. Hartini

Hartini adalah wanita setia yang sempat mengisi hidup Soekarno. Saat dipinang oleh sang proklamator pada 1953, Hartini berumur 29 tahun dan berstatus janda lima anak.

Pernikahan keduanya diawali oleh pertemuan di Candi Prambanan, Jawa Tengah, saat sang kepala negara mengadakan kunjungan kerja. Sumber lain menyebutkan, pertemuan di candi itu adalah kelanjutan cinta pandangan pertama keduanya di rumah dinas Wali Kota Salatiga, setahun sebelumnya.

Dari Soekarno, Hartini melahirkan dua anak, yakni Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra. Hartini tetap menjadi istri saat masa kekuasaannya Soekarno sudah memasuki usia senja.

Hartini juga tetap mempertahankan status pernikahan hingga ajal menjemput Soekarno. Di pangkuan Hartinilah, Putra Sang Fajar menghembuskan napas terakhirnya di RS Gatot Subroto pada 21 Juni 1970.



5. Ratna Sari Dewi

Ratna Sari Dewi adalah wanita kelima yang dinikahi Soekarno. Lahir dengan nama Naoko Nemoto di Tokyo, 6 Februari 1940, Dewi dinikahi sang proklamator saat usia 19 tahun. Dari Soekarno, yang ketika itu berumur 57 tahun, Dewi mempunyai satu anak yaitu Kartika Sari Dewi Soekarno.

Kisah pertemuan Soekarno dan Dewi cukup menarik. Gadis Jepang itu berkenalan dengan Soekarno lewat seseorang ketika Bung Karno berada di Hotel Imperial, Tokyo. Sebelum menjadi istri Soekarno, Dewi adalah seorang pelajar sekaligus entertainer. Gosip beredar bahwa dia adalah seorang geisha. Namun rumor itu berkali-kali dibantahnya.

Dalam 'A Life in the Day of Madame Dewi' diceritakan, setelah bercerai dengan Soekarno, Dewi kemudian pindah ke berbagai negara di Eropa termasuk Swiss, Perancis, dan Amerika Serikat. Pada 2008, ia menetap di Shibuya, Tokyo, Jepang.

Dewi pernah membuat kontroversi pada 1998, saat dia berpose untuk sebuah buku foto berjudul 'Madame Syuga'. Di buku itu, ditampilkan Dewi dengan pose-pose setengah bugil dan menampakkan seperti tato.



6. Haryati

Sebelum dinikahi Soekarno pada 1963, Haryati adalah mantan penari istana sekaligus Staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian. Karena pekerjaannya itulah, Haryati dekat dengan sang proklamator.

Melihat kemolekan Haryati, Soekarno bak arjuna yang tak henti mengirim rayuan kepada wanita berusia 23 tahun itu. Bahkan, status Haryati sebagai kekasih orang lain, tak membuat Soekarno mundur untuk meluapkan rasa cintanya.

Hati Haryati pun akhirnya jebol dan tak kuasa menolak pinangan sang kepala negara. Soekarno dan Haryati akhirnya menikah pada 21 Mei 1963. Namun selang tiga tahun, Haryati diceraikan tanpa anak. Soekarno beralasan sudah tidak cocok. Saat itu, Soekarno juga sedang dekat dengan Ratna Sari Dewi.



7. Yurike Sanger

Pertama kali Presiden Soekarno bertemu dengan Yurike Sanger pada tahun 1963. Kala itu Yurike masih yang masih berstatus pelajar menjadi salah satu anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika pada acara Kenegaraan.

Pertemuan itu rupanya langsung menarik perhatian Sang Putera Fajar. Perhatian ekstra diberikan sang presiden kepada gadis bau kencur itu, mulai dari diajak bicara, duduk berdampingan sampai diantar pulang ke rumah.

Rupanya, benih-benih cinta sudah mulai di antara keduanya. Singkat waktu, Bung Karno menyatakan perasaannya dan menyampaikan ingin menikah dengan sang pujaan hati. Seutai kalung pun diberikan ke Yurika.

Akhirnya, Bung Karno menemui orangtua Yurike. Pada 6 Agustus 1964, dua anak manusia yang tengah dimabuk cinta itu menikah secara islam di rumah Yurike. Berjalannya waktu, ternyata pernikahan ketujuh Sang Proklamator berjalan singkat.

Kondisi Bung Karno pada 1967 yang secara de facto di makzulkan sebagai presiden, berdampak pada kehidupan pribadi. Didasari rasa cinta yang luar biasa, Bung Karno yang menjadi tahanan rumah di Wisma Yoso menyarankan agar Yurike meminta cerai. Akhirnya perceraian itu terjadi, meski keduanya masih saling cinta.



8. Kartini Manoppo

Sosok wanita ini merupakan salah satu istri yang paling dicintai oleh Soekarno. Menikah dengan Kartini Manoppo, Bung Karno dikarunia anak Totok Suryawan Sukarno pada 1967. Keduanya menikah pada 1959.

Awal mula Bung Karno jatuh hati pada wanita yang pernah jadi pramugari Garuda Indonesia itu saat melihat lukisan karya Basuki Abdullah. Sejak saat itu, Kartini tak pernah absen tiap kali Bung Karno pergi ke luar negeri.

Kartini merupakan wanita asal Bolaang Mongondow, Sulawesi. Dia terlahir dari keluarga terhormat, sehingga Kartini menutup rapat-rapat pernikahannya dengan Bung Karno. Sejarah mencatat, Kartini merupakan istri kedelapan Sang Putera Fajar.



9. Heldy Djafar

Heldy Djafar merupakan istri terakhir Soekarno, istri kesembilan. Keduanya menikah pada 1966, kala itu Bung Karno berusia 65 tahun sedangkan Heldy gadis asal Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur itu, masih berusia 18 tahun.

Pernikahan keduanya hanya bertahan dua tahun. Kala itu situasi politik sudah semakin tidak menentu. Komunikasi tak berjalan lancar setelah Soekarno menjadi tahanan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto. Heldy sempat mengucap ingin berpisah, tetapi Soekarno bertahan. Soekarno hanya ingin dipisahkan oleh maut.

Akhirnya, pada 19 Juni 1968 Heldy 21 tahun menikah lagi dengan Gusti Suriansyah Noor. Kala itu Heldy yang sedang hamil tua mendapat kabar Soekarno wafat. Soekarno tutup usia 21 Juni 1970, dalam usia 69 tahun.
Saturday, 9 February 2013

NABI MUHAMMAD (570 SM - 632 SM)



Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.

Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.
Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.
Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.
Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.
Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.
Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.
Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.
Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.
Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.
Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.
Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan
Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.
Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.



Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat
Unknown Biografi

Pidato Nobel Tawakkul Karman

Oleh Ahmad Syafii Maarif*
Nama lengkap pemenang hadiah Nobel Perdamaian asal Yaman ini adalah Tawakkul ‘Abd al-Salam Karman (32), seorang ibu beranak tiga. Bersama dengan dua tokoh perempuan lain, Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf (73) dan aktivis perdamaian Liberia Leymah Gbowee (39), Tawakkul Karman pada 10 Desember 2011 berbagi anugerah Nobel Perdamaian di Oslo dalam sebuah upacara yang sangat bergengsi.

Berita sebagai pemenang ini diterima Tawakkul saat berada di tenda perlawanan terhadap Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, seorang diktator yang telah berkuasa selama 33 tahun. Tawakkul adalah pemenang hadiah Nobel termuda sejak hadiah ter hormat itu diberikan pertama kali pada 10 Desember 1901, 50 tahun setelah Alfred Bernhard Nobel wafat.


Tawakkul Karman juga dikenal sebagai Ibu Revolusi Yaman sekalipun banyak ulama San’a yang menyalahkan dan menuduhnya sebagai penghancur moralitas kaum perempuan. Kritik ini tidak dihiraukannya karena keyakinan bahwa kezaliman dan despotisme harus diakhiri di negerinya.


Laki-laki dan perempuan sama-sama punya kewajiban untuk meniadakan rezim despo tik. Tawakkul dengan dukungan penuh dari suaminya adalah salah seorang tokoh puncak para demonstran muda yang selama berbulan-bulan telah memimpin perlawanan damai terhadap rezim yang sedang berkuasa. Selama perlawanan itu, Tawakkul pernah terluka dan ditahan, tetapi semangat juangnya tidak pernah kendur. Dia adalah salah seorang anggota terkemuka dari Partai Ishlah, sebuah partai oposisi utama di Yaman. Dengan mengikuti pidato Nobel itu, semakin sadarlah kita tentang betapa dalamnya keresahan kaum perempuan di dunia Arab yang berada di bawah kultur patriarki dan mendominasi selama ratusan tahun. Sekarang, dominasi itu harus dihalau sehingga posisi laki-laki dan perempuan ditempatkan pada kesetaraan dan keadilan.

Berikut ini adalah bagian-bagian penting dari pidato Nobel Tawakkul yang dapat diakses dalam tiga bahasa, Arab, Inggris, dan Swedia, yang saya beri komentar. Pidato tersebut dalam versi bahasa Inggris yang terdiri atas 3.453 perkataan dan 17.156 karakter tanpa spasi. Tawakkul mengatakan bahwa anugerah Nobel itu bukan hanya untuknya, melainkan juga untuk semua anak muda yang telah berjuang menegakkan keadilan, demokrasi, dan hak-hak asasi manusia yang terabaikan selama puluhan, bahkan ratusan tahun di negerinya.

“Mimpi Alfred Nobel tentang sebuah dunia di mana perdamaian menang dan peperangan menghilang, memang belum tercapai, tetapi harapan untuk membuatnya menjadi kenyataan telah semakin membesar dan upaya untuk meraihnya telah menjadi berlipat. Anugerah Nobel Perdamaian masih menawarkan harapan itu sebagai momentum spiritual dan kehati-hatian. Selama lebih dari 100 tahun, anugerah itu telah berdiri kokoh sebagai bukti tentang nilai-nilai perjuangan damai untuk hak-hak, keadilan, dan kebebasan, serta juga sebagai bukti tentang bagaimana palsunya kekerasan dan peperangan dengan segala akibat yang merusak dan menghancurkan.”

“Saya selalu percaya bahwa perlawanan terhadap penindasan dan kekerasan hanyalah mungkin ditandangi tanpa bertumpu pada penindasan dan kekerasan serupa. Saya selalu percaya bahwa peradaban umat manusia adalah buah dari upaya bersama perempuan dan laki-laki. Jadi, manakala perempuan diperlakukan secara tidak adil dan tersingkir dari hak alaminya dalam proses ini, maka segala kekurangan sosial dan penyakit-penyakit kultural akan terhampar, serta pada ujungnya seluruh komunitas, lakilaki dan perempuan, akan sama menderita.

Solusi bagi isu-isu perempuan hanyalah dapat dicapai dalam sebuah masyarakat bebas dan demokratis. Di dalamnya, energi manusia dimerdekakan, baik energi perempuan maupun laki-laki, secara bersama-sama. Peradaban kita dinamakan peradaban ma nusia dan tidak disangkutkan hanya kepada jenis laki-laki atau perempuan.” Isu gender amat terasa dalam pidato Tawakkul dan itu sangat wajar dalam sebuah masyarakat yang pincang.

Adalah sebuah kejutan sejarah seorang perempuan Arab memimpin demonstrasi perlawanan terhadap rezim otoriter karena selama ini, mereka telah terbiasa hidup dalam ketertindasan dalam bilangan abad. Bahkan, di Arab Saudi yang mengaku sebagai pengawal dua kota suci, ketertindasan perempuan Arab dengan pembenaran syariat telah lama jadi rahasia umum. Coba Anda bayangkan punya SIM saja sudah haram. Agama macam apa ini?

Menjadi semakin menarik seorang Tawakkul Karman dan
Partai Ishlah (Partai IM Yaman-red) yang biasa dikategorikan sebagai partai pendukung syariah telah tampil ke lapangan untuk meruntuhkan sistem politik yang anti-rakyat. Tanpa membawa slogan syariah. Dalam pidato Nobelnya, tak satu pun kata syariah itu muncul. Tetapi, bahwa maqashid al-syari’ah (tujuan utama syariah) bagi tegaknya keadilan, kemerdekaan, dan persamaan sangat dirasakan dalam pidato itu. Prinsip-prinsip ini telah lama terkubur di bawah debu sejarah dalam masyarakat Yaman sebagaimana juga berlaku di seluruh dunia Arab. Kutipan-kutipan selanjutnya akan menjelaskan kepada kita bahwa Tawakkul memahami benar betapa ketidakadilan sejarah telah berlangsung, tidak hanya di dunia Arab, tetapi juga di bagian-bagian dunia yang lain.

Sejak Anugerah Nobel Perdamaian pertama tahun 1901, berjuta orang telah mati dalam berbagai peperangan yang semestinya dapat dihindari sekiranya ada sedikit kearifan dan keberanian. Negeri-negeri Arab turut merasakan akibat peperangan tragis ini sekalipun bumi mereka adalahbumi kenabian dan risalah ketuhanan yang menyeru kepada perdamaian.


Dari bumi inilah datang Taurat dengan membawa pesan, "Kamu jangan membunuh dan janji Bibel, "Rahmat bagi pejuang perdamaian, serfa pesan terakhir dari Alquran yang rpfinekankan. "Wahai kalian yang beriman, masuklah kalian ke dalam perdamaian, seluruhnya." Dan, ada lagi peringatan bahwa "barang siapa membunuh seorang bukan karena orang itu membunuh orang lain atau berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia." (QS al-Maidah 32).


Di mata Tawakkul, perbuatan pembunuhan tanpa alasan yang benar adalah perbuatan kriminal terhadap seluruh umat manusia sebagaimana Alquran telah menegaskan sejak abad-abad silam. Tetapi, pembunuhan dalam Revolusi Arab oleh rezim penguasa masih saja berlangsung.

Selanjutnya dikatakan, "Perdamaian dalam suatu negeri tidak kurang pentingnya daripada perdamaian antara bangsa-bangsa. Peperangan bukan hanya sebuah konflik antara negara. Masih ada lagi tipe perang lain yang lebih getir, yaitu perang yang dilancarkan oleh pemimpin-pemimpin despot yang memeras rakyatnya sendiri. Ini adalah pe-rang yang dilakukan oleh penguasa tempat rakyat memercayakan kehidupan dan nasibnya, tetapi mereka telah mengkhianati kepercayaan itu. Ini adalah perang oleh penguasa yang kepadanya rakyat telah memercayakan keamanan, tetapi justru senjata malah dibidikkan kepada rakyatnya sendiri. Inilah perang yang sekarang sedang dihadapi oleh negara-negara Arab.Tawakkul dalam pidato Nobelnya tanpa tedeng aling aling menyerukan anak-anak muda Arab untuk meruntuhkan rezim-rezim yang tak beradab itu.

Bagi Tawakkul, damai tidak semata-mata menghentikan perang, "... tetapi juga menghentikan penindasan dan kezaliman. Di kawasan Arab kami, telah berlaku perang brutal antara pemerintah dan rakyat. Kesadaran kemanusiaan tidak mungkin berada dalam perdamaian, sementara orang menyaksikan anak-anak muda Arab ini dalam usia yang tengah mekar sedang diberondong oleh mesin-mesin maut yang dilepaskan atas mereka oleh para tiran." Para tiran inilah yang meminta fatwa kepada ulama kerajaan bagi pembenaran kelangsungan kekuasaan zalim mereka. Sekarang semuanya telah berubah berkat revolusi anak muda yang semakin-terdidik.
Jika di Kairo terkenal Lapangan Tahrir, di Sanaa ada Lapangan Taghyir (Lapangan Perubahan). Di sinilah anak-anak muda Yaman berkumpul dan berorasi menuntut perubahan sistem kekuasaan, dari otokrasi menuju sistem demokrasi. Di sini pulalah Tawakkul selama berbulan-bulan membunyikan lonceng perubahan itu tanpa henti.


Lonceng itulah pada akhirnya yang memaksa penguasa negeri tersebut menyerahkan kekuasaannya, sekalipun tidak mulus. Siapa tahu negeri-negeri lain semisal Suriah, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, bahkan Saudi Arabia bakal menyusul. Kita ikuti lebih jauh pidato Nobel itu. "Banyak bangsa telah menderita, termasuk rakyat Arab, sekalipun mereka tidak berada dalam suasana perang, tetapi juga tidak dalam suasana damai. Perdamaian di mana mereka hidup adalah sebuah perdamaian kuburan palsu, perdamaian berupa menyerah kepada tirani dan korupsi yang memelaratkan rakyat dan membunuh harapan mereka untuk sebuah masa depan lebih baik. Hari ini, seluruh komunitas umat manusia wajib berdiri bersama rakyat kami dalam perjuangan damai mereka untuk kebebasan, martabat, dan demokrasi. Sekarang rakyat kami telah memutuskan untuk memecah kesunyian dan berupaya untuk hidup dan mewujudkan makna ungkapan abadi dari Khalifah Umar bin Khattab Sejak kapan kamu memperbudak manusia, sedangkan ibu mereka melahirkan mereka sebagai manusia merdeka."

Ungkapan antisipatif Umar ini rupanya telah semakin menambah amunisi semangat anak-anak muda Arab itu untuk perubahan. Harapan kita, semoga perjuangan anak-anak muda ini akan membuahkan hasil maksimal. Tuntutan besar apa yang diminta oleh Revolusi Arab ini, khususnya untuk Yaman? Hanya satu tuntutan, kata Tawakkul, yaitu "perubahan damai dan berupaya meraih kehidupan bebas dan bermartabat dalam sebuah negara demokrasi dan sipil yang diperintah oleh the rule of law (kekuasaan berdasarkan hukum). Negara ini akan dibangun di atas reruntuhan kekuasaan yang menindas, bercorak militer, korup, dan kekuasaan polisi keluarga terbelakang, yang terus membawa Yaman menuju pinggir jurang kegagalan dan kehancuran selama 33 tahun." Inilah wajah buram rezim Ali Abdallah Saleh di mata anak-anak muda Yaman yang disuarakan dengan lantang di mimbar Nobel oleh Tawakkul Karman, perempuan pemberani itu. Suara ini tidak mungkin lagi dibungkam untuk selama-lamanya. Berabad-abad sudah, rezim-rezim dinasti korup telah menebarkan bencana demi bencana atas diri dan martabat rakyat Arab yang bernasib malang itu.

Akhirnya, Tawakkul Karman menjelaskan empat tahap revolusi yang tidak boleh dilampaui, yaitu 1. Menumbangkan sang diktator dan keluarganya; 2. Menumbangkan aparat keamanan dan militer serta jaringan nepotismenya; 3. Mendirikan kelembagaan negara transisional; 4. Bergerak ke arah legitimasi konstitusional dan mendirikan negara demokratis dan sipil modern.

Untuk kasus Yaman, jalan menuju keempat tahap itu masih dalam proses kritikal, berliku, dan sarat konflik. Yaman bukanlah negara makmur sebagaimana negara-negara Arab yang kaya minyak. Perhatian dunia terhadap negara ini baru marak setelah Tawakkul Karman menyampaikan pidato bersejarahnya di mimbar Nobel, Oslo, pada 10 Desember 2011, beberapa minggu menjelang tahun baru 2012.
sumber ; republika.
Unknown Biografi

Ummu Salamah r.a

Lembaran sejarah hijrah Ummat Islam ke Madinah, barangkali tidak bisa melupakan torehan tinta seorang ibu dengan putrinya yang masih balita.
Keduanya, hanya dengan mengendarai unta dan tidak ada seorang lelakipun yang menemaninya, meski kemudian ditengah jalan ada orang yang iba dan kemudian mengantarnya, berani menembus kegelapan malam, melewati teriknya siang dan melawan ganasnya padang sahara, mengarungi perjalanan yang amat panjang dan melelahkan, kurang lebih 400 km. Dialah Salamah dan ibunya, Hindun bin Abi Umayyah atau sejarah lebih sering menyebutnya dengan Ummu Salamah.

Ummu Salamah adalah putri dari pemuka kaum kaya dibani Mughirah, Abi Umayyah. Parasnya jelita dan ia adalah seorang yang cerdas. Setelah menginjak usia remaja ia dinikahkan dengan Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi. Lalu keduanya berkat hidayah Allah SWT menyatakan keislamannya.
Ketika kaum Muslimin berhijrah keMadinah, keduanya ikut pula didalamnya, meski tidak dalam waktu yang bersamaan. Abdullah (Abu Salamah) berangkat terlebih dahulu, setelah itu Ummu Salamah menyusul seorang diri dengan anaknya. Lalu mulailah mereka berdua menjalani kehidupannya bersama anak-anaknya dikota Madinah tercinta.

Tapi tak lama kemudian Abu Salamah akibat luka yang dideritanya semenjak perang Uhud meninggal dunia. Akhirnya Ummu Salamahpun seorang diri mengasuh dan mendidik anak-anaknya.Kemudian datanglah Abu Bakar r.a untuk melamarnya, juga Umar bin Khattab r.a. Namun dengan lemah lembut kedua lamaran tersebut ia kembalikan.
Setelah itu datang pula utusan Rasulullah SAW untuk meminangnya. Ummu Salamahpun menolaknya dengan berbagai pertimbangan. Namun setelah mendapat penjelasan dari Rasulullah SAW akhirnya ia menerima lamaran tersebut.

Diantara para istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah adalah istri yang tertua. Dan untuk menghormatinya, Rasulullah SAW sebagaimana kebiasaannya sehabis sholat Ashar, beliau mengunjungi istri-istrinya maka beliau memulainya dengan Ummu Salamah r.a dan mengakhirinya dengan Aisyah r.a
Ummu Salamah wafat pada usia 84 th, bulan Dzul-Qo`dah,tahun 59 Hijrah atau 62 Hijrah dan dikebumikan diBaqi`. Wallahu a`lam bish-Showab.
Unknown Biografi