buku
Image and video hosting by TinyPic
Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts
Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts
Thursday, 30 May 2013

‘Masa Tuhan Bisa Mati?’ & Anthony Pun Masuk Islam

ANTHONY Vatswaf Galvin Green lahir Dar es Salam, Tanzania. Ibunya seorang Katolik yang taat dan ayahnya seorang agnostik, dan sejak kecil Anthony dididik sebagai seorang Katolik yang taat.  Ayahnya seorang administrator kolonilal kerajaan Inggris. Kini, kerajaan yang terbentang begitu luasnya lebih dari sepertiga permukaan bumi itu telah hancur. Satu-satunya yang tersisa adalah beberapa pulau di Falklands. Begitu banyak hal yang berubah, termasuk Antony, bahkan namanya kini berubah menjadi Abdur Raheem Green—setelah ia masuk Islam tentunya.
Oleh ibunya, Anthony kecil adiknya, Duncan disekolahkan di asrama biara. Setiap hari ia hidup bersama para biarawan di Ampleforth College, di Yorkshire, Inggris Utara. Sang ibu menganggap dengan bersekolah di asrama akan membuat Anthony menjadi penganut Katolik yang taat.

“Seharusnya ibu juga menikah dengan seorang Katholik, tapi karena ibu menikah dengan ayah yang agnostik, ia merasa menjadi seorang penganut Katolik yang buruk. Maka, ia ingin menjadikanku seorang Katolik yang taat,” terang Anthony.

Saat Anthony berumur sembilan tahun, sang ibu mengajarinya sebuah doa yang biasa diucapkan oleh umat Katholik. Doa itu dimulai dengan kalimat “Salam maria, ibu Tuhan”. Namun, kalimat itu membuat Anthony heran.  Bahkan dalam usianya yang baru sembilan tahun, kalimat itu seperti pukulan pertama, mendengar ibu berkata salam maria ibu Allah

“Aku kemudian bertanya pada diri sendiri bagaimana Tuhan bisa memiliki ibu?” katanya. Ia berpikir Tuhan seharusnya tanpa awal dan tanpa akhir. Bagaimana bisa Tuhan memiliki seorang ibu? Anthony kecil kemudian mengambil kesimpulan “jika Maria adalah ibu Tuhan, maka pasti Maria menjadi Tuhan lebih baik daripada Yesus.”

Belum lagi soal pelajaran di sekolahnya yang semakin membuatnya galau. Di sekolah, dalam satu kali setahun selalu ada pengakuan dosa kepada pastor. “Kamu harus mengakui semua dosa, jika tidak maka pengakuan dosa-dosamu tidak akan diampuni,” demikian kata sang pastur yang terus diingat oleh Anthony.
Anthony merasakan keimanannya semakin bermasalah. Pikirannya mulai liar, ia bahkan memiliki ide “Tuhan menjadi manusia”.

Pikirannya mulai terbuka. Ia sering bertanya mengapa harus sekolah di asrama, jauh dari siapapun dan dimanapun. Saat berusia sebelas tahun, sang ayah dipindah tugaskan ke Mesir. Ayahnya menjadi General Manager Barclays Bank di Kairo. Hampir selama sepuluh tahun, ia selalu menghabiskan waktu liburan di Mesir. Sekolah di London, dan liburan di Mesir.

Ia mulai jatuh cinta pada Mesir. Saat kembali ke sekolah seusai liburan, ia bertanya untuk apa kembali ke asrama Yorkshire Moor, ia merasa tak menyukai tempat itu. “Saya mulai bertanya pada diri sendiri mengapa saya ada, apa tujuan hidup saya, hidup ini untuk apa?”

Ia lantas mulai mencari jawaban, memulai pecarian. Pencarian itu barangkali bisa ditemukan melalui agama lain yang mungkin bisa memberikan  pemahaman tentang tujuan hidup.

Sepuluh tahun waktu yang di ia habiskan di Mesir. Ada satu masa saat ia berumur 19 tahun berbincang tentang Islam dengan seseorang. Ia memang meragukan Katholik sebagai agamanya. Tapi saat itu siapapun yang mempertanyakan agamanya itu, ia akan tetap membela keimanannya. Ia merasakan ini sebagai sebuah paradoks yang aneh.

“Aku berbincang dnegan orang itu selama 40 menit. Pemuda itu memintaku menjawab beberapa pertanyaan darinya,” katanya.

Si pemuda

menanyakan “Apakah kau mempercayai Yesus?”, Anthoni menjawab “Ya”. Pemuda itu kemudian bertanya lagi, “Apakah kamu percaya Yesus mati disalib?”, Anthoni kembali menjawab “Ya.”
Si pemuda kembali bertanya “Jadi kamu percaya Tuhan mati?”.

Seketika Anthony terperangah, menyadari sebuah ironi. Sambil mengakui kebodohan dirinya, ia menjawab, “Tentu saja saya tidak percaya Tuhan mati. Manusia tidak bisa membunuh Tuhan,” tandas Anthony.

Pertemuan dengan pemuda Mesir itu menjadi titik balik dalam kehidupan Anthony. Sebelumnya ia tak pernah bermimpi bahkan memikirkan tentang Islam. Anthony berpikir bahwa karena taka da agama, maka ia harus jadi orang kaya.  Ia berpikir bagaimana menghasilkan uang tapi hanya sedikit usaha. “Siapa yang ingin mengabiskan banyak waktu untuk bekerja?” pikirnya. Ia mengingat orang Inggris yang memiliki banyak uang tapi mereka bekerja terlalu keras, bahkan sampai terjadi revolusi industri. Orang Amerikapun harus berjuang keras untuk menjadi kaya. Orang Jepang pun dikenal sebagai penggila kerja.

“Kemudian saya berpikir tentang orang Arab. Mereka duduk di atas unta dan berteriak ‘Allahu Akbar’, tapi mereka kaya,” ujarnya.
Anthoni merasakan ketertarikan luar biasa untuk membeli Alquran. Ia mengambil terjemahannya. “Aku tak ingin mencari kebenaran. Aku hanya ingin tahu apa isi kitab suci ini,” katanya.

Anthony adalah pembaca yang cukup cepat. Ia membaca Alquran saat berada di kereta api. Seketika itu pula ia menyimpulkan dan berkata pada diri sendiri, “Jika saya pernah membaca buku yang berasal dari Tuhan, maka ini dia bukunya.”


Ia menyakini Alquran itu berasal dari Allah. Ketika menyadari itu ia mulai bergerak lebih jauh, tak hanya membaca Alquran saja, tapi untuk mengamalkannya juga. “Sama saja seperti kita melihat apel yang terlihat harum, kita tak akan pernah tahu rasanya kalau tidak mencicipinya,” katanya.

Tertarik dengan pengamalan Alqurlan ia pun mulai mencoba untuk shalat meski saat itu ia belum resmi mengucap syahadat. Tak tahu bagaimana cara shalat, ia mengingat-ingat bagaimana seseorang yang pernah ia temui di Mesir melakukan shalat. “Saya mengingat seorang lelaki shalat dengan cara yang lebih indah dibandingan saya ketika saya masih menjadi Katholik,” ingatnya.

Suatu hari Anthony pergi ke toko buku yang kebetulan berada di dalam masjid. Toko itu memiliki koleksi buku tentang Muhammad dan tata cara shalat. Seorang pria menanyakan apakah ia seorang Muslim. Anthony lantas menjawab, “Apakah saya Muslim, apa yang ia maksud dengan itu? Saya bilang ‘Ya saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusannya’.”

“Ah, bila demikian, Anda Muslim. Ini waktunya shalat, mari kita shalat,” ajak lelaki itu.

Anthony kebetulan datang ke toko buku itu saat hari Jumat. Ia yang tak paham gerakan shalat hanya berusaha shalat dengan gerakan yang ia tahu saja. Masih salah disana-sini. “Setelah itu orang-orang mengelilingi saya dan mengajarkan saya cara shalat yang benar. Itu rasanya fantastis!”

Namun butuh dua tahun sebelum akhirnya ia resmi bersyahadat dan menjadi Muslim. Anthony mengaku menyesal telah menyia-nyiakan waktu dua tahun sebelum menjalani Islam dengan baik. “Aku tahu kebenaran tapi tak segera menjalankannya. Itu adalah kondisi yang buruk. Jika kita tidak tahu, maka tidak dikenai dosa. Tapi masalahnya saya tahu apa yang benar,” katanya. Kini Anthony telah berganti nama menjadi Abdur Raheem Green. Seorang Muslim. [islampos]
Saturday, 25 May 2013

Kaum Musyrik Quraisy Ketakutan Mendengar Doa Rasulullah SAW


Waktu itu dakwah Nabi Muhammad SAW ibarat masih seumur jagung, namun penentangan dan halangan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy sangat besar. Setiap kali Nabi mendatangi kerumunan orang-orang kafir dan menyeru kebenaran tuhan, Nabi selalu dihujat dan tidak jarang mendapat perlakuan fisik kasar.

Menghadapi semua itu, nabi hanya bisa bersabar dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebelum atau sesudah dakwah, nabi selalu menyempatkan diri mengunjungi Baitullah untuk beribadah dan memohon petunjuk kepada Allah.
Suatu hari ketika Nabi sedang beribadah di Baitullah, seorang petinggi Quraisy yang getol menentang dakwah nabi, Abu Jahal duduk bersama kawan-kawannya tidak jauh dari Baitullah.

Mereka berkumpul untuk menjalankan siasat menghentikan dakwah nabi. Pada saat itu, Abu Jahal teringat temannya yang baru menyembelih unta, sehingga dalam fikirannya terbesit untuk berbuat jahat dan keji kepada Rasulullah SAW.

“Siapa di antara kalian yang mau pergi mengambil kotoran unta yang baru kemarin disembelih. Maka ambillah, lalu letakkanlah kotoran itu di atas kedua pundak Muhammad ketika dia sedang sujud,” hasut Abu Jahal kepada temannya.

Salah satu kawan Abu Jahal terhasut, kemudian dia berlari mengambil kotoran unta. Setelah kembali ke pelataran Baitullah, dia melihat Rasulullah sedang sujud. Seketika itu, dia menyiramkan kotoran unta itu ke pundak nabi. Seketika perbuatan itu mendapat pujian dari Abu Jahal dan sorakan dari teman-temannya.


Meski tersadar pundaknya dipenuhi kotoran unta, nabi tidak beranjak dari sujudnya dan tetap beribadah. Perbuatan orang-orang Quraisy itu diketahui oleh seorang penduduk Makkah, dia segera berlari memberitahu kejadian itu kepada putri nabi, Fathimah Az-zahra.

Fathimah kaget mendengar kabar itu, dia kemudian bergegas menuju Baitullah untuk melihat situasi sebenarnya. Sesampainya di sana, Fathimah segera mendekati Rasulullah dan membersihkan pundaknya yang dipenuhi kotoran unta. Setelah itu, dia mengolok-olok Abu Jahal dan teman-temannya.

Ketika Fathimah mengolok-olok, nabi yang selesai beribadah kemudian menghampiri Abu Jahal dan mendoakan kecelakaan kepada mereka.

“Ya Allah, tumpaslah orang-orang musyrik Quraisy,” nabi mengulangi doanya itu sampai tiga kali, tiba-tiba Abu Jahal bersama teman-temannya berhenti bersorak. “Ya Allah, tumpaslah Abu Jahal bin Hisyam, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaiban bin Rabi’ah, Al-wahid bin  ’Uqbah, Umayyah bin Khalaf, dan ‘Uqbah bin Abu Mu’aith,” lanjut doa nabi.

Kemudian nabi bersama Fathimah meninggalkan mereka. Abu Jahal dan teman-temannya dirasuki ketakutan luar biasa. Mereka takut doanya nabi akan terkabul.

Benar saja, Allah mengabulkan doa Nabi Muhammad. Ketika perang Badar berkecamuk, kaum Muslimin berhasil menumpas nama-nama tersebut bersama tumbangnya orang-orang musyrikin lainnya.

Kisah Lincoln Istri Presiden Turki


TURKI-Hayrunnisa Gul, istri Presiden Abdulloh Gul, menceritakan kisah keluarga dan kesulitan yang dihadapinya paska terpilihnya Abdullah Gul sebagai presiden Turki sangat mirip dengan kisah mantan Presiden AS Abraham Lincoln.

Pernyataan tersebut datang saat berbicara dengan wartawan di provinsi Erzurum timur Selasa pada kampanye yang bertajuk “Talking Books.”
“Saya dan suami jarang memiliki kesempatan untuk menonton film. Namun, kami akhirnya berkesempatan untuk menyaksikan film “Lincoln”, drama sejarah Amerika yang  diproduksi oleh Steven Spielberg pada tahun 2012.” kata Hayrunnisa.

Film ini menceritakan upaya Presiden Lincoln untuk melakukan amandemen ke-13 Konstitusi Amerika Serikat pada bulan Januari tahun 1865. Amandemen ini secara resmi menghapus perbudakan di negara itu.

“Ada banyak kesamaan antara cerita Lincoln dan keluarga kami,” ujar ibu negara yang berhijab ini usai menonton “Lincoln”.

“Saya pikir semua negara melewati proses dan pengalaman yang sama selama waktu tertentu. Ada beberapa momen yang menunjukkan ketika Lincoln bersama istrinya dan saya menempatkan diri pada posisi mereka. Aku melalui hal-hal yang mirip dengan mereka.” katanya.

Ketika Menteri Luar Negeri Abdullah Gül mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden pada tahun 2007, kalangan sekuler di militer Turki dan masyarakat sangat menentang pencalonan Gul karena istrinya mengenakan jilbab.


Kalangan ini melihat jilbab sebagai ancaman terhadap rezim sekuler. Rapat umum diselenggarakan di berbagai tempat menyusul pencalonan tersebut, dan militer Turki merilis sebuah memorandum terhadap Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) yang telah mengusung Gül dan mengancam akan mengambil segera mengambil tindakan.

Setelah terpilihnya Gül, komandan militer dan partai oposisi utama, Rakyat Republik (CHP), memboikot kegiatan yang diselenggarakan di Istana Çankaya karena jilbab istrinya.

“Sekarang, kita bicara tentang mendidik anak perempuan. Dulu kita lewati hari-hari dimana kita sangat sedih dan patah hati. Namun, syukur kepada Allah, Turki telah menghilangkan pemisah itu (larangan jilbab-red),” katanya lagi.

Pemakaian jilbab di universitas dilarang hingga 2010 di Turki. Banyak perempuan yang mengenakan jilbab harus berhenti sekolah karena larangan itu atau harus ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan mereka. Sabagaimana yang terjadi pada putri  PM Turki yang harus melanjutkan pendidikannya di Amerika hanya untuk mempertahankan jilbabnya.(eramadina)
Unknown Kisah Islami
Friday, 24 May 2013

Hakim Marilyn Memeluk Islam

“Allah Swt melihat saya, itu saja. Sejak saat itu, tanpa saya inginkan, saya terus bertemu dari satu orang ke orang yang lain, yang mengarahkan saya pada jalan dimana tidak ada tempat buat saya untuk kembali menengok ke belakang. Semakin saya tahu tentang Islam, tentang Nabi Muhammad Saw., menjadi semakin jelas buat saya bahwa inilah yang saya inginkan, tempat dimana saya ingin berada dan inilah apa yang saya ingin yakini.”

MARILYIN Mornington adalah hakim distrik di Inggris, dosen bertaraf internasional dan penulis di bidang hukum keluarga dan kekerasan dalam rumah tangga.
Sebagai perempuan, Marilyn memiliki prestasi luar biasa di bidang hukum yang digelutinya. Ia meraih gelar sarjana hukumnya dari Sheffield University dan mendapatkan beasiswa dari Notre Dame Convent.

Marilyn mulai menjalankan profesinya di bidang hukum khususnya untuk masalah keluarga pada tahun 1976 di Liverpool. Selama perjalanan karirnya, ia pernah menjabat berbagai posisi penting di sejumlah organisasi kemasyarakatan dan keilmuan.

Tahun 1994, Marilyn ditunjuk sebagai hakim distrik di Birkenhead, Liverpool. Ia menjadi advokat pertama yang terpilih sebagai hakim distrik pada usia 40 tahun. Selain menjadi hakim distrik, Mornington juga diakui sebagai salah satu anggota World Academy of Arts and Science.

Marilyn adalah seorang mualaf. Selama 10 sampai 12 tahun sebelum masuk Islam, Marilyn menangani isu-isu terkait kekerasan dalam rumah tangga, terutama pada anak-anak dan kaum perempuan, dan dalam beberapa kasus terjadi di kalangan komunitas Muslim. Khsusus
untuk muslim, agar bisa memahami persoalan dengan lebih baik, Marilyn banyak membaca tentang agama Islam dan bergaul kalangan Muslim.

“Saya sudah mengkhususkan diri di bidang kejahatan terhadap perempuan, kekerasan terhadap perempuan dan penganiyaan terhadap anak-anak selama 10 sampai 12 tahun, untuk tingkat kebijakan yang diterapkan di Inggris Raya. Karena pekerjaan ini, dan ini bukan pilihan saya sendiri, saya menjadi banyak terlibat dalam kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di komunitas Muslim di negeri ini. Agar saya bisa memahami dengan lebih baik darimana mereka berasal, saya mulai banyak membaca tentang Islam, mulai membaca Quran dan bergaul dengan kalangan Muslim,” ujar Marilyn.

Apa yang membuat Marilyn memeluk Islam? “Saya harus mengatakan, saya tidak berpikir bahwa saya benar-benar punya pilihan dalam masalah ini, bahwa Allah Swt melihat saya, itu saja. Sejak saat itu, tanpa saya inginkan, saya terus bertemu dari satu orang ke orang yang lain, yang mengarahkan saya pada jalan dimana tidak ada tempat buat saya untuk kembali menengok ke belakang. Semakin saya tahu tentang Islam, tentang Nabi Muhammad Saw., menjadi semakin jelas buat saya bahwa inilah yang saya inginkan, tempat dimana saya ingin berada dan inilah apa yang saya ingin yakini.”

“Saya merasakan sangat nyaman dengan kehidupan keluarga dan kisah-kisah para isteri Rasulullah Saw. serta para sahabatnya. Dan seiring dengan berjalannya waktu, juga setelah mendengar ceramah dan membaca tulisan Syaikh Hamza, saya makin yakin, inilah kehidupan sejati yang saya inginkan,” pungkas Marilyn. (islampos)
Unknown Kisah Islami

Kisah Lincoln Istri Presiden Turki

TURKI-Hayrunnisa Gul, istri Presiden Abdulloh Gul, menceritakan kisah keluarga dan kesulitan yang dihadapinya paska terpilihnya Abdullah Gul sebagai presiden Turki sangat mirip dengan kisah mantan Presiden AS Abraham Lincoln.

Pernyataan tersebut datang saat berbicara dengan wartawan di provinsi Erzurum timur Selasa pada kampanye yang bertajuk “Talking Books.”
“Saya dan suami jarang memiliki kesempatan untuk menonton film. Namun, kami akhirnya berkesempatan untuk menyaksikan film “Lincoln”, drama sejarah Amerika yang  diproduksi oleh Steven Spielberg pada tahun 2012.” kata Hayrunnisa.

Film ini menceritakan upaya Presiden Lincoln untuk melakukan amandemen ke-13 Konstitusi Amerika Serikat pada bulan Januari tahun 1865. Amandemen ini secara resmi menghapus perbudakan di negara itu.

“Ada banyak kesamaan antara cerita Lincoln dan keluarga kami,” ujar ibu negara yang berhijab ini usai menonton “Lincoln”.

“Saya pikir semua negara melewati proses dan pengalaman yang sama selama waktu tertentu. Ada beberapa momen yang menunjukkan ketika Lincoln bersama istrinya dan saya menempatkan diri pada posisi mereka. Aku melalui hal-hal yang mirip dengan mereka.” katanya.

Ketika Menteri Luar Negeri Abdullah Gül mengumumkan
pencalonan dirinya sebagai presiden pada tahun 2007, kalangan sekuler di militer Turki dan masyarakat sangat menentang pencalonan Gul karena istrinya mengenakan jilbab.

Kalangan ini melihat jilbab sebagai ancaman terhadap rezim sekuler. Rapat umum diselenggarakan di berbagai tempat menyusul pencalonan tersebut, dan militer Turki merilis sebuah memorandum terhadap Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) yang telah mengusung Gül dan mengancam akan mengambil segera mengambil tindakan.

Setelah terpilihnya Gül, komandan militer dan partai oposisi utama, Rakyat Republik (CHP), memboikot kegiatan yang diselenggarakan di Istana Çankaya karena jilbab istrinya.

“Sekarang, kita bicara tentang mendidik anak perempuan. Dulu kita lewati hari-hari dimana kita sangat sedih dan patah hati. Namun, syukur kepada Allah, Turki telah menghilangkan pemisah itu (larangan jilbab-red),” katanya lagi.

Pemakaian jilbab di universitas dilarang hingga 2010 di Turki. Banyak perempuan yang mengenakan jilbab harus berhenti sekolah karena larangan itu atau harus ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan mereka. Sabagaimana yang terjadi pada putri  PM Turki yang harus melanjutkan pendidikannya di Amerika hanya untuk mempertahankan jilbabnya.(eramadina)
Thursday, 23 May 2013

John Ridley, Kisah Perjuangan Jurnalis BBC Masuk Islam


Betapa besarnya ujian seorang jurnalis Inggris yang masuk Islam. Keislamannya bukan hanya ditentang oleh keluarga, ia bahkan mengalami kesulitan mendapatkan penghasilan.

Namanya John Ridley. Ia dilahirkan di tengah keluarga Nasrani. Ia rajin ke gereja tiap pekan bersama orang tua dan saudara perempuannya. Namun, semakin bertambah usianya, pemikiran John pun makin kritis. Banyak pertanyaan dari hatinya mengenai Tuhan dan kebenaran agama yang tidak menemukan jawaban di gereja.
Hingga tibalah saat itu, ketika John mendapatkan kesempatan untuk mengenal Islam. John diterima di BBC Worldwide sebagai jurnalis untuk dikirim ke Timur Tengah. Sebelum berangkat ke Timur Tengah, John berkenalan dengan seorang Muslim saat tengah menjalani masa pelatihan broadcasting dan jurnalistik BBC. Ia pun mempelajari Islam sebelum berangkat ke Timur Tengah dan berinteraksi dengan umat Islam di sana.

John ditugaskan di Oman. Di sana ia bebas bercakap-cakap dengan umat Islam, membuatnya bisa berdiskui tentang Islam di samping ia juga aktif membaca literatur Islam. Hidup John mulai berubah, sebab ia menemukan jawaban dari pertanyaannya selama ini justru di sini; di dalam Islam.

"Aku mendapat kesempatan bertugas di Timur Tengah selama enam bulan. Itu adalah petualangan pertama yang menakjubkan yang pernah ada dalam hidupku," kata John Ridley, menceritakan kisahnya merengkuh hidayah.

Di Timur Tengah itulah, setelah menyadari kebenaran Islam dan menyaksikan secara langsung kehidupan muslim di sana, John mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Perjuangan Mempertahankan Islam
Masuk Islam bukanlah perjalanan mulus bagi John Ridley. Saat pulang kembali ke Inggris, John mendapati keluarganya menentangnya. John terus mendekati keluarganya, tetapi mereka tak kunjung berubah sikap. Di negerinya sendiri, John juga mulai kesulitan mendapatkan penghasilan.


Saat-saat itu barangkali adalah saat-saat paling sulit dalam hidup John. Tetapi, Allah tidak membiarkannya sendirian. Allah membukakan jalan kepada John. Sebuah stasiun radio Arab Saudi memintanya menjadi seorang reporter selama invasi AS ke Irak pada 2003. John pun menerima tawaran itu. Ia terbang kembali ke Timur Tengah. 

Usai bertugas di Saudi, John pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia. Makin bertambahlah pegetahuannya tentang Islam. Delapan bulan kemudian, ia kembali ke Timur Tengah. Sejumlah negara telah ia kunjungi dalam 30 tahun terakhir. Antara lain Lebanon, Oman, Yaman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, Iran dan Yordania. 

Pengalaman John hidup puluhan tahun di Timur Tengah menjadi kekuatan tersendiri bagi profesinya sebagai jurnalis, penyiar dan penulis. Pengetahuan dan pemahamannya tentang dunia Islam dinilai luar biasa.

Membela Palestina
Menulis menjadi senjata John untuk membela Palestina. Dalam berbagai tulisannya, John menyerukan hak warga Palestina. 

"Kemanusiaan, perdamaian, perlindungan anak, diajarkan dalam Islam. Bagaimana saling mengerti antarmanusia dan hidup berdampingan. Saya benar-benar beruntung menemukan Islam," ujar John bersyukur.

Namun demikian, pembelaan John untuk Palestina tidak hanya diwujudkan melalui tulisan. Ia juga terjun langsung memberikan pidato di camp-camp pengungsian Palestina. 

Menulis, bagi John, bukanlah masalah menghasilkan uang. Apalagi menulis untuk membela hak-hak kemanusiaan di Palestina dan dunia Islam. "Kita memang membutuhkan uang. Tapi, ada hal yang lebih penting yakni manusia dan kemanusiaan. Saya tidak mau hanya diam sementara orang-orang di luar sana telantar dan kesulitan. Saya benar-benar ingin menjadi bagian untuk membela mereka," kata John menegaskan misinya. [IK/Rpb]
Unknown Kisah Islami
Wednesday, 22 May 2013

Pelajari Al-Quran Untuk Buktikan Islam Salah, Aktris Inggris Justru Masuk Islam


MYRIAM Francois-Cerrah sudah sangat populer di Inggris ketika dirinya masih anak-anak. Ia adalah pemain film ‘Sense and Sensibility‘yang ngetop di era 09-an. Ketika ia memutuskan dirinya menjadi seorang mualaf, popularitas dirinya semakin melonjak. Ia adalah seorang mualaf wanita terpelajar kelas menengah di Inggris.

Myriam merujuk pada peristiwa serangan 11 September 2001 di AS sebagai motif di balik keingintahuannya tentang Islam. Itulah yang membuat dirinya menyatakan diri masuk Islam.
Ia menyebut bahwa kehidupan Nabi Muhammad (SAW) sebagai seseorang yang membuatnya termotivasi untuk mengubah karirnya.

Myriam menggambarkan Nabi Muhammad sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah yang telah disalahpahami. Dia mengutip beberapa perkataan populer Nabi Muhammad SAW, dan salah satu kutipan favoritnya adalah, “Maafkan orang yang bersalah kepada Anda. Jalinlah hubungan dengannya. Berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat jahat kepada Anda dan berbicara tentang kebenaran bahkan jika itu bertentangan dengan diri Anda sendiri.”

Awalnya, sarjana filsafat lulusan Universitas Cambridge ini membuka Alquran dengan perasaan”marah”. Ia berdiskusi soal Tuhan dengan teman kuliahnya. Sang teman, menggunakan dalil ketuhanan sesuai apa yang disebutkan dalam konsep Islam. “Saya mempelajarinya sebagai bagian dari upaya untuk membuktikan pendapat teman saya yang seorang Muslim itu salah,” ujarnya.


Kemudian ia mulai membaca dengan pikiran yang lebih terbuka. Pembukaan Al Fatihah mencengangkannya. “Dalam Islam, seluruh tindakan manusia, dia sendiri yang akan menanggung konsekuensinya. Itulah pentingnya dia mengambil jalan lurus, jalan Tuhan,” ujarnya. Makin lama belajar Alquran, makin besar keinginan Myriam untuk menganut agama Islam. Tujuan semula, mendebat argumentasi temannya, berubah menjadi pengakuan, “Kamu benar tentang agamamu!”

Tak mau buang waktu, ia segera bersyahadat. “Beberapa teman dekat saya melakukan yang terbaik untuk mendukung saya dan memahami keputusan saya. Saya tetap sangat dekat dengan beberapa teman masa kecil saya dan melalui mereka saya mengakui universalitas pesan Ilahi, bahwa nilai-nilai Tuhan bersinar melalui  perbuatan baik manusia, Muslim maupun bukan,” katanya.

Ia menyatakan, konversi keimanannya bukan sebagai ‘reaksi’ terhadap, atau oposisi terhadap budaya Barat. “Sebaliknya, itu merupakan validasi dari apa yang  selalu saya pikirkan,” ujarnya, seraya mengkritik beberapa masjid di Inggris yang menutup pintu dialog tentang ketuhanan dan terlalu dogmatis. “Catat: aturan dan protokol mereka banyak yang membingungkan dan malah bikin stres.”

“Menjadi Muslim, tidak berarti kita  kehilangan semua jejak diri kita sendiri. Islam adalah validasi yang baik dalam diri kita dan sarana untuk memperbaiki yang buruk,” pungkas Myriam. (islampos)
Unknown Kisah Islami

Pria Bertato “Mirip Dajjal” Mengeluh Tak Pernah Diterima Bekerja


Seorang pria yang memiliki tato di tengah dahinya mengaku galau, karena tidak pernah diterima ketika melamar pekerjaan.

Pria berkepala plontos dan berjanggut lebat bernama Yusuf Hameed ini mengaku telah mengajukan 450 lamaran pekerjaan selama setahun terakhir, termasuk menjadi tukang cuci mobil dan petugas pembersih jalan.

Pria 40 tahun asal kota Batley, West Yorks ini mengatakan para pengusaha selalu menolak menerima lamarannya karena tato di tubuhnya.
Meski bernama Yusuf Hameed, tapi tato yang ia bikin di tengah dahinya menunjukkan salah satu simbol kepercayaan Buddha. Selain di tengah dahinya, Yusuf juga punya tato simbol Yin Yang dan gambar Thai Boxing di belakang kepalanya yang plontos.

“Ini benar-benar membuatku frustasi dan aku sulit berfikir jika tato-tato ini seperti menjadi penghalang mendapatkan pekerjaan,” kata Yusuf seperti dikutip The SUN.

“Aku bisa melihat orang-orang mengalihkan pandangan ketika melihat tatoku.”


Meski Yusuf bersikukuh dirinya mempunyai kualitas dan ketrampilan lebih, toh belum ada satupun perusahaan yang mau menerimanya.

“Aku lebih dari memenuhi syarat untuk banyak pekerjaan, tetapi mereka semua mengatakan kepadaku kalau tatoku tidak sesuai dengan citra perusahaan.”

Yusuf yang ternyata seorang mualaf inimengaku mempunyai tato pertamanya pada usia 14 tahun, tetapi ia sekarang mengatakan dengan menyesal andaikata ia tak pernah membuat tato-tato itu. Namun seperti dilansir DailyMail, tidak disebutkan kapan dia masuk Islam dan siapa nama aslinya sebelum berganti menjadi Yusuf Hameed.

Ia mengaku membuat tato karena pengaruh teman-temannya dikala muda.

“Aku dahulu sering bergaul dengan pemuda-pemuda yang lebih tua dariku.”

Ia kini hanya berharap ada majikan yang mau menerimanya bekerja tanpa menghiraukan masa lalunya dan memberinya kesempatan. (Muslim Daily/SA)
Unknown Kisah Islami

Dr. Morsi menangis saat dinasehati Syaikh Dr. Muhammad Hassaan (Syaikh Salafi):

Syaikh Hassan : "Ya Duktur Muhammad, Hal Sami'ta Qauluta Amril bin Ash?". 
(Syaikh Hassan : "Wahai Duktur Muhammad (Morsi), Apakah Anda pernah mendengar ucapan Amr bin Ash?")

Dr. Morsi : "Ma Hiya? Qaul Eisy Ya Syaikh Muhammad?".
(Dr. Mirsi : "Apa itu? Coba sampaikan wahai Syaikh Muhammad (hassan).")


Syaikh Hassan : "Yaquula Amrulubnul ASh, Wilayatu Mishro Ta'dilul Khilafah."
(Syaikh Hassan : "Amr bin Ash mengatakan bahwa WILAYAH TERITORIAM MESIR SAMA DENGAN WILAYAH KHILAFAH.")


Dr. Morsi : "MaadZa?!"
(Dr. Morsi : "Apaaa?!")

fawadha'a ra'sahu baina yadaihi wa ghauraqot ainaahu bid dumu' wa Qoola
(maka Dr. Morsi meletakkan kedua tangannya diatas kepalanya sambil menangis sesenggukan), lalu Dr. Morsi mengatakan)


Dr. Morsi : "Wallahi, Maa Sya'urtu bi Tsiqolil Amaanati wal Mas-uuliyyati wa khutharin Maa Ana Muqbilun Alaihi, Illa Ba'da simaa'iy hadzihi qaulati Li Faatihil Mishro Amrul Ibnu Ash radhiyallahu Anhu wa ardhah
(Dr. Morsi : "Demi Allah, saya tidak pernah merasakan beratnya amanah dan tanggungjawan serta bahaya yang akan menghadang dimasa yg akan datang kecuali setelah mendengar ucapan Sang Pembebas Mesir ini, Amr bin Ash RA.")

Unknown Kisah Islami
Friday, 17 May 2013

Pencurian Jasad Nabi Muhammad SAW



Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kondisi umat islam pada masa dinasti Abbasiyah di Baghdad. Kondisi umat Islam saat itu menunjukkan situasi  yang semakin melemah dari waktu ke waktu.  Umat Islam mengalami perpecahan sehingga menyebabkan berdiri nya beberapa kerajaan Islam di beberapa daerah. melihat kondisi yang demikian tak di sia-siakan begitu saja oleh orang-orang nasrani yang merasa kesempatan emas untuk mencoreng wajah umat Islam dan membuat umat Islam jatuh ada di depan mata. Diam-diam mereka telah menyusun rencana untuk mencuri jasad Nabi Muhammad. Setelah terjadi kesepakatan oleh para penguasa Eropa, mereka pun mengutus dua orang nasrani untuk menjalankan misi keji itu. Misi itu mereka laksanakan bertepatan dengan musim haji. Dimana pada musim itu banyak jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Kedua orang nasrani ini menyamar sebagai jamaah haji dari Andalusia yang memakai pakaian khas Maroko. Kedua spionase itu ditugaskan melakukan pengintaian awal kemungkinan untuk mencari kesempatan mencuri jasad Nabi SAW.

Setelah melakukan kajian lapangan, keduanya memberanikan diri untuk menyewa sebuah penginapan yang lokasinya dekat dengan makam Rasulullah. Mereka membuat lubang dari dalam kamarnya menuju makam Rasulullah.

Belum sampai pada akhir penggalian, rencara tersebut telah digagalkan oleh Allah melalui seorang hamba yang akhirnya mengetahui rencana busuk itu

Sultan Nuruddin Mahmud bin Zanki, adalah seorang hamba sekaligus penguasa Islam kala itu yang mendapatkan petunjuk melalui mimpi akan ancaman terhadap makam Rasulullah. 

Sultan mengaku bermimpi bertemu dengan Rasulullah sambil menunjuk dua orang lelaki berambut pirang dan berujar: “ Wahai Mahmud, selamatkan jasadku dari maksud jahat kedua orang ini.” Sultan terbangun dalam keadaan gelisah lalu beliau melaksanakan sholat malam dan kembali tidur. Namun, Sultan Mahmud kembali bermimpi berjumpa Rasulullah hingga tiga kali dalam semalam.

Malam itu juga Sultan segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan dari damaskus ke madinah yang memakan waktu 16 hari, dengan mengendarai kuda bersama 20 pengawal serta banyak sekali harta yang diangkut oleh puluhan kuda. Sesampainya di Madinah, sultan langsung menuju Masjid Nabawi untuk melakukan sholat di Raudhah dan berziarah ke makam Nabi SAW. Sultan bertafakur dan termenung dalam waktu yang cukup lama di depan makam Nabi SAW. Lalu menteri Jamaluddin menanyakan sesuatu, “Apakah Baginda Sultan mengenal wajah kedua lelaki itu? “Iya”, jawab Sultan Mahmud.

Maka tidak lama kemudian Menteri Jamaludin mengumpulkan seluruh penduduk Madinah dan membagikan hadiah berupa bahan makanan sambil mencermati wajah orang yang ada dalam mimpinya. Namun sultan tidak mendapati orang yang ada di dalam mimpi itu diantara penduduk Madinah yang datang mengambil jatah makanan. Lalu menteri Jamaluddin menanyakan kepada penduduk yang masih ada di sekitar Masjid Nabawi. “Apakah diantara kalian masih ada yang belum mendapat hadiah dari Sultan?”

Tidak ada, seluruh penduduk Madinah telah mendapat hadiah dari Sultan, kecuali dua orang dari Maroko tersebut yang belum mengambil jatah sedikitpun. Keduanya orang saleh yang selalu berjamaah di Masjid Nabawi.” Ujar seorang penduduk.

Kemudian Sultan memerintahkan agar kedua orang itu dipanggil. Dan alangkah terkejutnya sultan, melihat bahwa kedua orang itu adalah yang ia lihat dalam mimpinya. Setelah ditanya, mereka mengaku sebagai jamaah dari Andalusia Spanyol. Meski sultan sudah mendesak bertanya tentang kegiatan mereka di Madinah. Mereka tetap tidak mau mengaku. Sehingga sultan meninggalkan kedua lelaki itu dalam keadaan penjagaan yang ketat.

Kemudian sultan bersama menteri dan pengawalnya pergi menuju ke penginapan kedua orang tersebut. Sesampainya di rumah itu yang di temuinya adalah tumpukan harta, sejumlah buku dalam rak dan dua buah mushaf al-Qur’an. Lalu sultan berkeliling ke kamar sebelah. Saat itu Allah memberikan ilham, sultan Mahmud tiba-tiba berinisiatif membuka tikar yang menghampar di lantai kamar tersebut. Masya Allah, Subhanallah, ditemukan sebuah papan yang di dalamnya menganga sebuah lorong panjang, dan setelah diikuti ternyata lorong itu menuju ke makam Nabi Muhammad.

Seketika itu juga, sultan segera menghampiri kedua lelaki berambut pirang tersebut dan memukulnya dengan keras. Setelah bukti ditemukan, mereka mengaku diutus oleh raja Nasrani di Eropa untuk mencuri jasad Nabi SAW. Pada pagi harinya, keduanya dijatuhi hukum penggal di dekat pintu timur makam Nabi SAW. Kemudian sultan Mahmud memerintahkan penggalian parit di sekitar makam Rasulullah dan mengisinya dengan timah. Setelah pembangunan selesai, sultan Mahmud dan rombongan pulang ke negeri Syam untuk kembali memimpin kerajaannya.
Unknown Kisah Islami
Wednesday, 8 May 2013

Demi Berhenti Mencuri, Pria Ini Potong Tangan Sendiri



Seorang pria di Mesir terpaksa memotong kedua tangannya setelah dia mengaku tak mampu menahan hasrat untuk mencuri. Pria yang bernama Ali Afifi itu menyebut tindakannya itu sebagai perang melawan iblis.


Afifi mengaku dia ingin berhenti mencuri, namun hasratnya tidak mampu menahan keinginan untuk melakukan perbuatan tersebut.

Pria berusia 27 tahun itu mengatakan, empat tahun lalu dia pergi ke sebuah stasiun kereta api di Kota Tanta, Mesir untuk memotong tangannya. Dengan disaksikan banyak orang, Afifi meletakkan salah satu tangannya ke rel kereta hingga tak lama kemudian kereta datang dan menghilangkan satu tangannya.


Ketika sang ayah mengetahui kejadian tersebut, dia mengira putranya menderita kelainan jiwa. Afifi pun segera dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

"Ketika saya keluar dari rumah sakit jiwa beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk memotong satu tangan lagi untuk memastikan bahwa saya tidak lagi mencuri," ujar Afifi kepada suratkabar Mesir.

Sebelum memotong tangannya sendiri, Afifi sempat meminta salah seorang intelektual Muslim untuk membantunya memotong tangannya. Namun intelektual itu menolak.

"Dia menolak permintaan saya, mengatakan bahwa dia bukan penguasa atau seseorang yang dalam posisi untuk mengambil keputusan. Dia menyarankan saya untuk bertaubat dan memohon pertolongan Tuhan. Saya pun memutuskan untuk memotong tangan saya," imbuhnya.
Unknown Kisah Islami

Amal Perbuatan Utbah bin Rabi’ah Yang Mengantarkannya ke Neraka



Umayyah bin Abi Shalt adalah seorang penyihir Jahiliyah yang terkenal. Dia banyak menelaah buku lagi membaca, bahwa seorang Nabi dari kalangan Arab akan diutus, diberitakan pula telah tiba masanya seorang Nabi akan keluar. Referensi menyebutkan kabar yang mengisyaratkan, Umayyah menduga bahwa Utbah bin Rabi’ah yang akan menjadi nabi.



Ibnu Asakir dan yang lainnya dari para sejarawan meriwayatkan kisah panjang seputar berita ini. Dia menyebutkan dari Abu Sufyan bin Harb, bahwasanya dia berkata:

Aku keluar bersama Umayyah bin Abi Shalt untuk berdagang ke Syam.


Dalam kisah disebutkan bahwa Umayyah mengetahui akan diutusnya seorang nabi dari kalangan Arab Hijaz. Dia menduga bahwa dialah Nabi itu. Hanya saja sewaktu di perjalanan menuju Syam dia bertemu dengan seorang pendeta Nashrani. Darinya dia mengetehaui, bahwa nabi itu akan diutus dari kalangan Quraisy yang umurnya 40 tahun. Karena itu Umayyah mengabarkan kepada Utbah bahwa dialah Nabi.”


Abu Sufyan berkata: Umayyah bertanya kepadaku tentang Utbah bin Rabi’ah. Katanya, “Wahai Abu Sufyan, kabarkanlah kepadaku tentang Utbah bin Rabi’ah, apakah dia menghindari kezhaliman dan hal-hal yang haram?”


Aku menjawab, “Ya, demi Allah.”


Umayyah berkata, “Dia menyambung tali persaudaraan dan berseru untuk menyambungnya?”


Aku menjawab, “Ya demi Allah.”


Umayyah berkata, “Dia memuliakan kedua belah pihak, penengah dalam keluarga/suku?”


Aku menjawab, “Ya.”


Umayyah berkata, “Apakah engkau mengetahui orang Quraisy yang lebih mulia darinya?”


Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak mengetahuinya.”


Dia berkata, “Apakah dia memiliki kebutuhan?”


Aku menjawab, “Tidak, bahkan dia seorang yang kaya raya.”


Dia berkata, “Berapa umurnya?”


Aku menjawab, “Lebih dari seratus tahun.”


Dia berkata, “Sesungguhnya usia kemuliaan dan harta menghinakannya.”


Maka kukatakan padanya, “Tidaklah usia bertambah melainkan kemuliaan pun bertambah.”


Dia berkata, “Aku mendapati dalam kitab-kitabku, bahwa Nabi itu diutus di wilayah kita ini. Aku mengira dirikulah orangnya. Tatkala aku belajar kepada ahli ilmu, ternyata dia dari Bani Abdi Manaf. Lantas kulihat dia dari Bani Abdi Manaf, lalu kuperhatikan dan tidak kudapati orang yang layak untuk ini selain Utbah bin Rabi’ah. Maka tatkala engkau mengabariku tentang usianya aku mengetahui bahwa dia orangnya, karena dia telah melewati 40 tahun sementara wahyu belum turun kepadanya.”


Umayyah meyakinkan bahwa sifat-sifat Utbah telah gugur dan jauh dari kenabian.


Abu Sufyan berkata: Tatkala aku pulang ke Mekah, aku mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus. Kemudian aku menemui Umayyah di Tha’if lantas kukatakan padanya seakan aku menghinakannya, “Wahai Abu Utsman –kunyah (panggilan) Umayah- Nabi yang engkau gambarkan telah keluar!”


Dia berkata, “Jika dia berada di atas kebenaran, maka ikutilah dia.”


Aku berkata, “Apa yang menghalangimu untuk mengikutinya padahal engkau telah mengetahui kebenaran?”


Dia menjawab, “Tidak ada yang menghalangiku melainkan rasa malu terhadap kaum wanita Tsaqif. Aku pernah berbicara kepada mereka bahwa aku seorang Nabi, kemudian bagaimana kalau mereka mengetahui aku tunduk kepada anak muda dari Bani Abdi Manaf!”


Kabar ini barangkali memberikan titik terang pada kita tentang kemuliaan turun menurun yang terpendam dalam jiwa Utbah bin Rabi’ah, yang menjadikan dirinya berhak dinobatkan sebagai nabi dari yang lain. Dan nampaknya bagi saya –wallahu a’lam- bahwa ini merupakan salah satu sebab yang menjadikan Utbah termasuk orang-orang yang berbuat kriminal yang terbesar permusuhannya terhadap Allah dan Rasul-Nya.


Tatkala benih-benih keislaman mulai menyentuh hati kaum mukminin, Utbah bin Rabi’ah tergolong di antara orang yang berdiri menentang dengan kesombongan dan kecongkakannya di hadapannya kaum muslimin dan menghalangi Rasul yang mulia beserta para sahabatnya, mereka mendapat gangguan darinya, mereka selalu berhadapan dengan kekerasan dan kezhalimannya. Di antara yang mendapat gangguannya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.


Abu Bakar radhiallahu ‘anhu seorang pemberani di saat tak seorang pun dari kaum muslimin terang-terangan berbicara di hadapan para penyembah berhala dari kalangan Quraisy, mereka berada di Darul Arqam bersembunyi dari kaum musyrikin.


Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menyampaikan ide kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –jumlah kaum muslimin kala itu mencapai 38 orang- agar mengumumkan dakwah, Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai Abu Bakar, kita ini masih sedikit.”


Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mendesak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga Beliau mengizinkan mereka keluarga ke Masjidil Haram, kaum muslimin berpencar, setiap orang bersama keluarganya, sementara Abu Bakar berdiri berkhutbah di hadapan manusia dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk, dialah orang pertama yang menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya.


Kaum musyrikin menyerang Abu Bakar dan kaum muslimin, dengan penyerangan serempak ala Jahiliyah, mereka menyerang kaum muslimin di segenap penjuru masjid. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu diinjak dan dipukul dengan pukulan yang melukai. Si Fasiq yang berlagak mulia Utbah bin Rabi’ah mendekat dan memukul dengan kedua sandalnya yang menyakitkan muka Abu Bakar, sampai dia tak sadarkan diri. Kemudian keluarganya menbawanya ke rumah, seraya berkata, “Demi Allah, kalau seandainya Abu Bakar meninggal, kami akan membunuh Abul Walid Utbah bin Rabi’ah.


Abu Quhafah –ayah Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu- dan kaumnya berusaha mengajaknya berbicara hingga dia sadar dan menjawab mereka di akhir siang. Tahukah anda, kalimat pertama yang diucapkan Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu saat itu?


Dia tidak bertanya tentang dirinya dan apa yang diperbuat oleh si Fasiq Utbah, serta apa yang dideritanya akibat siksaan dan cercaan, melainkan dia berkata, “Apa yang diperbuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”


Semuanya merasa kebingungan, mereka mencerca, mengecam dan meninggalkannya dalam kesal dan marah karena apa yang diucapkan oleh Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.


Setelah kaumnya meninggalkan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, tinggallah sang Ibu –Salma binti Shakhr- (Ummul Khair) berduaan dengannya. Abu Bakar berkata kepadanya,


“Apa yang diperbuat Rasulullah wahai ibuku?”


Dia menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui keadaan temanmu pada hari ini.”


Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata, “Pergilah ke Ummu Jamil Fathimah bintil Khaththab tanyakan padanya –dia termasuk orang yang menyembunyikan keislamannya-.” Maka sang ibu pergi menemuinya seraya berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar bertanya kepadamu tentang temannya Muhammad bin Abdillah.”


Fatimah berkata, “Aku tidak mengetahui seorangpun, jika engkau menginginkan aku pergi bersamamu ke anakmu, aku akan melakukannya.”


Dia berkata, “Ya.”


Maka dia pergi bersamanya hingga menemui Abu Bakar yang menderita sakit parah, dia bertanya padanya, “Apa yang dilakukan Rasulullah?”


Fatimah merasa takut terhadap ibunya Salma binti Shakhr dan berkata,


“Ini adalah ibumu, apakah engkau mendengar wahai Abu Bakar?”


Dia berkata, “Jangan khawatir tentangnya dan jangan takut, insya Allah.”


Fatimah berkata, “Dia selamat dan baik Alhamdulillah, dia di Darul Arqam.”


Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak akan makan dan minum sehingga menjumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Setelah suasana sepi, keduanya membawa Abu Bakar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau dituntun sambil bersandar kepada ibu dan Fatimah. Setibanya di tempat tujuan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecupnya, lalu diikuti oleh kaum muslimin yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa sedih, lantas Abu Bakar berkata,


Ayah ibuku sebagai taruhannya wahai Rasulullah, aku
baik-baik saja, hanya wajahku yang agak sakit terkena pukulan si Fasiq Utbah bin Rabi’ah –wajah Abu Bakar bengkak karena kerasnya pukulan- ini ibuku yang berbuat baik terhadap anaknya, engkau diberkahi, maka ajaklah dia ke jalan Islam, semoga Allah menyelamatkannya dari api Neraka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya, agar dia masuk Islam dan mengajaknya ke Jalan Allah Azza wa Jalla, lantas dia masuk Islam dan berbai’at.

Dari kejadian ini mulailah Utbah bin Rabi’ah menyiksa kaum muslimin dengan beragam gangguan dan penyiksaan. Di sisi lain, hal itu menjadiakn ketinggian dan kemuliaan bagi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.


Al-Qasthalani rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Al-Mawahib, tentang keistimewaan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu yang langka dengan menyatakan, “Para Ulama menyebutkan, Abu Bakar radhiallahu ‘anhu lebih utama daripada orang beriman dari keluarga Fir’aun, karena dia hanya berjuang dengan lisan, sementara Abu Bakar berjuang dengan lisan dan tangan, dia membela Nabi dengan perkataan juga perbuatan.”


Duta Besar Orang-orang Jahat


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi orang-orang Quraisy dan manusia pada umumnya, agar beriman kepada Allah Azza wa Jalla. Utbah bin Rabi’ah dan orang-orang yang bersamanya merintangi petunjuk, dengan berbuat zhalim dan menampakkan kebodohan orang Jahiliyyah. Penglihatan mereka buta tidak bisa melihat cahaya kebanran. Mereka merasakan bahaya dakwah yang mengancam patung-patung mereka. Maka guncanglah keadaan mereka, khususnya Utbah yang –menurut pengakuannya- mengetahui ilmu sihir, perdukunan dan sya’ir. Dia mengira dengan kebodohannya, bahwa dia akan membuat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima tawarannya agar meninggalkan dakwah.


Suatu saat Utbah bersama segolongan kaum musyrikin duduk di Masjidil Haram saling berunding sesama mereka, menimbang dan berdebat serta mengutarakan usul. Saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk sendirian di samping mereka, namun jauh dari pemikiran mereka yang rapuh.


Utbah tampil di tengah-tengah kelompok, dia mengutarakan apa yang ada di kepalanya yang dianggapnya dapat mengenyahkan segala problematika mereka dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menyerahkan kepada Utbah segala keadaan mereka, dengan harapan nantinya, orang yang dianggap mampu menyingkirkan gelombang yang mendera dapat menyelematkan mereka, mereka berkata dengan satu saura, “Kerjakanlah wahai Abul Walid, apa yang menjadi pendapatmu.”


Maka berdirilah Utbah seraya berjalan dalam keadaan penuh dusta, hingga dia menghampiri dan duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas dia mengajak Beliau berbicara dengan apa yang di pikirannya, “Wahai putra saudaraku, sesungguhnya engkau bagian dari kami, kita termasuk orang-orang pilihan dan yang memiliki kedudukan juga kehormatan.”


Kemudian Utbah beranjak mendustakan dan berdusta dengan kebodohannya, dan mengaku bahwa dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan risalah yang dibawanya merupakan khayalan dari setan juga sekutunya, serta apa yang digambarkan oleh dirinya yang rendah. Dia berkata:


“Sesungguhnya engkau mendatangi kaummu dengan perkara yang besar, memecah belah kesatuan mereka dan engkau anggap mimpi mereka adalah kebodohan, engkau anggap aib tuhan dan agama mereka, serta engkau kafirkan nenek moyang mereka.”


Kemudian dia meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memenuhi permintaannya, hingga dia mengutarakan pada Beliau beberapa perkara, yang diharapkan beliau menerima sebagiannya. Dengan demikian tersingkap problematika Quraisy, sebagaimana akan lenyap problema Utbah sendiri, jika kaum Quraisy memilihnya sebagai duta yang menjembatani antara kaum Quraisy dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Dalam keadaan yang tenang, percaya diri dan hati yang penuh dengan keimanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,


“Katakanlah wahai Abul Walid, aku akan mendengarmu.”


Duhai, apakah hal yang diutarakan Utbah dalam majlis itu?!


Pemikiran yang Rendah dan Lapuk


Utbah bin Rabi’ah mengemukakan pemikiran-pemikiran rapuhnya yang tergambar dalam otaknya yang hanya berisi kesesatan. Dia beranjak dari tempat perkumpulan kaumnya ke majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memaparkan pemikirannya. Barangkali Nabi bersedia menerima sebagiannya, hingga kaum Quraisy mengaplikasikannya, dan sedikit demi sedikit terpecahlah berbagai problema dan kesulitan.


Utbah mengungkapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam empat perkara, yang menunjukkan kadar pemikirannya yang rendah lagi terbelakang, Dia berkata:


“Wahai pura saudaraku,


Jika engkau menghendaki dengan seruanmu itu harta benda, kami akan mengumpulkan untukmu harta hingga engkau menjadi orang terkaya di antara kita.


Jika engkau menghendaki kemuliaan (kekuasaan), kami tidak memutus perkara melainkan dengan persetujuanmu.


Jika engkau menghendaki kedudukan, akan kami jadikan engkau sebagai raja.


Jika apa yang kau bawa datangnya dari bangsa jin yang engkau lihat, sedang engkau tidak bisa menolaknya, akan kami datangkan untukmu tabib dan kami nafkahkan harta kami demi kesembuhanmu.”


Ini pemikiran yang bercokol di kepala Utbah, intelek Quraisy dan salah seorang yang berpura-pura menggunakan otaknya untuk menuntaskan problematika yang diangkat bersama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukanlah suatu keanehan bagi kepala dan ubun-ubun busuk, yang disanggah oleh leher yang panjang lagi keras, mengungkapkan hal semacam ini?


Tidak sampai di situ, bahkan si Utbah ini –semoga Allah memburukkannya- termasuk orang Quraisy yang dekat nasabnya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan manusia paling tahu akan kegiatan serta kehidupan dan pertumbuhan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam!!


Tidak ada laporan sama sekali bahwa Nabi pilihan dan tercinta berambisi mengumpulkan harta dunia, tidak diketahui dari Beliau –atau tercatat dalam sejarah- bahwa beliau meminta kepada mereka untuk menjadikan pemimpin atau raja di Mekah, bahkan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya meminta mereka agar menyucikan diri dan hati dari kotornya penyembahan patung, juga memerdekakan akal mereka dari lumut-lumut Jahiliyah yang hina.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih terdiam tidak menjawab apa yang didengarnya, dari orang yang berlagak intelek, namun sebenarnya bodoh seperti Utbah, hingga si Utbah usai dari perkataan dan pemaparannya. Hal itu tidak menggoyahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Beliau berkata, “Sudah puaskah engkau wahai Abul Walid?”


Utbah berkata, “Ya.”


Nabi bersabda, “Dengarkanlah aku.”


Utbah mendekatkan telinganya mempersiapkan panca indera dan perasaannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat yang jelas berupa petunjuk dan pembeda yaitu firman Allah:


“Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)’.” (QS. Al-Fushilat: 1-5)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan bacaannya sedangkan Utbah diam dengan meletakkan kedua tangannya di belakang punggung sambil bersandar pada keduanya mendengarkan Beliau. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam usai hingga ayat sajadah, Beliau pun sujud kemudian Beliau bersabda, “Engkau telah mendengarnya wahai Abul Walid baru saja, maka perhatikanlah hal itu olehmu!”


Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M
Unknown Kisah Islami
Wednesday, 24 April 2013

Kisah Mujahidin: Jenazah Masih Utuh dan Tercium Bau Wangi


Beberapa kali terjadi hujan deras di Darul Hadits Dammaj Yaman dan puncaknya terjadi pada sore hari Jumat tanggal 19 April 2013 hingga malam sabtu telah terjadi hujan lebat yang disertai es yang menyebabkan banir di Dammaj!

Akibat hujan yang deras tersebut menyebabkan beberapa rumah terendam banjir serta menyebabkan longsornya makam yang didalamnya dikebumikan 70an orang mujahidin yang dahulu pernah berperang melawan orang-orang Syiah.
Makam tersebut sebenarnya makam darurat yang terletak di tanah yg rendah bersebelahan dg perkampungan yg difungsikan pada saat perang dg syiah karena tidak memungkinkan pada saat itu memakamkan jenazah di pemakaman umum yg terbuka shg bisa menjadi sasaran tembak para syiah

Karena longsornya area makam dan menyebabkan terbukanya sebagian makam dan kebetulan ada dermawan yg mewakafkan tanahnya utk digunakan sbg makam maka syeikh Yahya Al Hajuri Pimpinan Mahad Darul Hadits Dammaj memutuskan untuk memindahkan jenazah orang-orang tersebut ke tempat pemakaman yang baru.

Berawal dari sinilah kebesaran Allah SWT dinampakkan kepada Hamba-Hamba-Nya. Kebanyakan jenazah yang ditemukan dalam keadaan utuh, bahkan seluruhnya.

Dimulailah pemindahan jenazah pada hari sabtu sekitar belasan jenazah hingga selesai hari senin.
Banyak perkara-perkara menakjubkan yang ditemukan ketika proses pemindahan jenazah. Sebagaimana yang telah kami sebutkan diatas bahwa jenazah mujahidin dalam kondisi utuh, padahal mereka telah meninggal 1,5 (satu setengah) tahun yang lalu.

Ada jenazah seorang ikhwan yang berasal dari Francis bernama sofyan baju yang dia kenakan masih dalam keadaan utuh, bahkan kain kafan, bulu kaki dan jenggotnya juga masih utuh. Subhaanallaah!

Ada juga jenazah seorang ikhwan dari Iraq tercium semerbak harum dari jasadnya, subhaanalloh!

Ada juga seorang jenazah yang ketika dipindahkan, darah masih menetes dari luka ditubuhnya sehingga seorang wartawan mengambil tisu untuk menyeka tetesan darah tersebut sebagai bukti karena dia tidak diperkenankan mengambil foto ataupun video, Subhaanalloh!


Ada juga jenazah seorang ikhwan, dimana sebelum wafatnya ia mengalami banyak penyiksaan yang dilakukan oleh syiah hingga badannya hitam kotor dan rusak namun tatkala jenazahnya dipindahkan dalam keadaan bersih yang tertinggal hanya luka-lukanya. Subhaanallaah!

Demikian juga dengan jenazah 5 balita dan 2 wanita yang merupakan anak-anak dan istri ikhwan, pun mereka masih dalam keadaan utuh! Bahkan seorang wanita lagi hamil masih dalam keadan utuh dengan kehamilannya, Subhaanallaah!

Fenomena yang menakjubkan ini mendorong banyak orang awan di sekitar Dammaj dan bahkan dari wilayah yang lain hingga ribuan datang berbondong-bondong melihat kekuasaan Allah SWT yang ditunjukkan kepada manusia secara keseluruhan. Hanya saja karena penggunaan video dan kamera tidak diperbolehkan di tempat itu menjadikan tidak adanya dokumen yang otentik seperti foto dan video.

Peristiwa ini pula yang mendorong Syaikh Ahmad yang mengimamami Sholat magrib membaca surat Al A’raf sampai selesai hingga hampir mendekati waktu isya. Subhaanallaah!

Pemindahan jenazah 70 mujahidin 2 wanita dan 5 balita tersebut dilakukan selama 3 hari mulai sabtu, ahad dan senin dilakukan setelah mempertimbangkan bahwa lokasi makam terletak di daerah yg rendah yang bila terjadi hujan deras lagi akan menyebakan area makam longsor dan lokasinya juga terlalu dekat dengan pemukiman penduduk

Pemindahan jenazah dilakukan dengan mobil dan jalan kaki, tidak semua jenazah dibuka dan diperlihatkan kepada yang datang menyaksikan tapi hanya beberapa yang kebetulan dipindah dengan jalan kaki dan warga yang menyaksikan ingin melihat akhirnya dibuka dan diperlihatkan.

Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka dan kita, semoga Allah SWT merahmati mereka dan kita, dan semoga kita dipertemukan dengan mereka di dalam surga-Nya, amin!

Wallohu ‘alam

Sumber FB: Tasnedi Bin Taslim
Unknown Kisah Islami
Tuesday, 23 April 2013

Nabi yang Mampu Menahan Terbenamnya Matahari


Setelah Nabi Musa as wafat, Nabi Yusya' bin Nun membawa Bani Israil untuk keluar dari padang pasir. Mereka berjalan hingga menyeberangi sungai Yordania dan akhirnya sampai di kota Jerica (Yeriko). Kota Jerica adalah sebuah kota yang mempunyai benteng dan pintu gerbang yang sangat kuat. Bangunan-bangunan di dalamnya tinggi-tinggi serta berpenduduk padat.

Nabi Yusya' bersama kaumnya, Bani Israil, mengepung kota tersebut sampai 6 bulan lamanya.
Pada suatu hari, mereka bersepakat untuk menyerbu sampai ke dalam. Dengan diiringi suara terompet dan pekikan takbir, serta semangat yang kuat, mereka berhasil menghancurkan benteng kota dan memasukinya.
Di dalam kota Jerica, mereka mengambil harta rampasan dan membunuh siapa saja yang mencoba menghalanginya.
Mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa di Syam.

Hari itu adalah hari Jum'at, peperangan belum juga usai sementara matahari sudah hampir terbenam. Berarti hari Jum'at akan segera berlalu dan hari Sabtu akan segera tiba. Padahal, menurut syariat, pada hari sabtu dilarang untuk melakukan peperangan.

Doa Nabi
Nabi Yusya' kemudian berkata,
"Wahai Matahari, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Allah SWT, demikian pula aku. Aku bersujud mengikuti perintahNya. Ya Allah, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam terlebih dahulu."

Dengan izin Allah SWT, matahari itu tidak terbenam dulu, sebelum negeri itu ditaklukkan.
Setelah Baitul Maqdis dapat dikuasai oleh Bani Israil, mereka pun hidup di dalamnya dan Nabi Yusya' yang memerintah mereka dengan kitab Allah, kitab Taurat sampai akhir hayatnya.
Beliau kembali ke hadirat Allah SWT saat berumur 127 tahun dan masa hidupnya 27 tahun setelah wafatnya Nabi Musa as.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Sesungguhnya matahari itu tidak pernah tertahan untuk terbenam hanya karena seorang manusia yang bernama Yusya' yaitu pada

malam-malam dia berjalan ke Baitul Maqdis untuk berjihad."

Diriwaytkan pula oleh Abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW. Ada seorang Nabi dari Nabi-Nabi Allah yang ingin berperang, dan dia berkata,
"Tidak boleh ikut bersamaku dalam peperangan ini, seorang laki-laki yang telah berkumpul dengan istrinya dan mereka mengharapkan seorang anak, tapi belum mendapatkannya. Begitu pula orang yang membangun rumah tapi atapnya belum selesai. Juga tidak boleh ikut bersamaku orang yang telah membeli kambing atau unta bunting yang dia tunggu binatang itu beranak."

Maka berangkatlah Nabi itu berjihad.
Ketika sudah berada di dekat daerah yang dituju, saat Ashar telah tiba atau hampir tiba, maka Nabi itu berkata kepada matahari,
"Wahai matahari, engkau tunduk kepada perintah Allah dan aku pun demikian. Ya Allah, tahanlah matahari itu sejenak agar tidak terbenam."

Maka Allah SWT menahan matahari itu hingga Nabi itu bersama kaumnya menaklukkan daerah tersebut. Kemudian mereka Mengumpulkan semua harta rampasan di sutau tempat. Namun tiba-tiba saja ada api yang menyambar, tetapi api tidak sampai membakar harta rampasan itu.

Nabi Yusya' berkata,
"Diantara kalian ada yang berkhianat, masih menyimpan sebagian harta rampasan. Aku harap seseorang dari setiap kabilah bersumpah kepadaku."

Satu persatu seseorang dari tiap kabilah bersumpah.
Tiba-tiba tangan Nabi Yusya' lengket pada tangan dua atau tiga orang.
"Kalian berkhianat," teriak Nabi Yusya'.

Dan orang-orang yang berkhianat itu mengeluarkan emas sebesar kepala sapi.
Emas itu kemudian dikumpulkan dengan harta rampasan lainnya. Harta rampasan itu dukumpulkan di sebuah lapangan, dan tiba-tiba saja datanglah api menyambar dan melalapnya.

Rasulullah SAW bersabda,
"Harta rampasan memang tidak pernah dihalalkan untuk umat sebelum kita, dan dihalalkan untuk kita karena Allah melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita."
Unknown Kisah Islami

Raja Zalim Tobat Karena Melihat Bulan Terbelah


Pada saat dakwah Rasulullah SAW mulai menyebar dan meluas, Abu Jahal dan Abu Lahab menjadi ketar-ketir dibuatnya.
Keduanya lantas meminta bantuan kepada Raja Habib bin Malik di Syam dan berharap sang raja bisa menuntaskan masalah mereka.
Raja Habib adalah seorang raja yang zalim, bengis dan tak segan-segan memberikan hukuman.

Abu Jahal mengadu bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengaku menjadi pesuruh Allah SWT dan membawa satu agama baru dan kononnya telah menghina Tuhan-Tuhan yang disembah oleh mereka.
Raja Habib pun segera memerintahkan agar Nabi Muhammad SAW untuk datang menghadapnya.
Nabi SAW pun bersedia memenuhi panggilan Raja Habib tersebut. Beliau datang dengan memakai jubah yang berwarna merah dan memakai sorban yang berwarna hitam.

Ketika memandang Rasulullah SAW, hati Raja Habib yang terkenal kejam itu tiba-tiba menjadi lembut. Lantas Raja Habib mempersilahkan Nabi SAW untuk duduk di sebelahnya.
"Wahai Muhammad, benarkah seperti yang aku dengar bahwa kamu telah mengaku menjadi pesuruh Tuhan?" tanya Raja Habib.
"Memang benar," jawab Rasulullah SAW.

"Sekiranya kamu adalah seorang nabi, sudah tentu kamu juga memiliki mukjizat sperti nabi-nabi yang lain sebelum kamu," kata Raja Habib.
"Apa yang Tuan mau?" tanya Nabi SAW.
"Saya ingin melihat kejadian yang belum pernah terjai sebelumnya, yaitu melihat matahari terbenam sebelum waktunya, kemudian bulan terbit lalu turun ke bumi. Setelah itu bulan terbelah menjadi dua, lalu masuk ke dalam pakaianmu. Selanjutnya bulan itu akan keluar dari lengan bajumu yang kanan dan kiri. Kemudian bulan itu kembali utuh di atas kepalamu dan bulan itu membenarkan kenabianmu, ujar Raja Habib.

Permintaan Raja yang Mustahil
Rasulullah SAW menjawab dengan tegas.
"Sekiranya aku bisa melakukannya, apakah Tuan akan beriman kepada Allah SWT?" tanya Nabi SAW.
"Iya, barulah saya akan percaya bahwa kamu adalah pesuruh Tuhan," jawab Raja Habib.

Nabi Muhammad SAW pun kemudian mendaki bukit yang bernama KUBAI lalu berdoa kepada Allah SWT.
Tak lama berselang, Malaikat Jibril turun dan membawa Firman Allah SWT.
Allah SWT berfirman,
"Wahai kekasih-Ku, janganlah engkau takut dan janganlah engkau bersedih ahti karena Aku bersamamu dimanapun engkau berada. Aku sudah mengetahui sejak awal apa yang diminta Habib. Pergilah kepada mereka,

tunujkkanlah ayat-ayatKu. Bentangkan secara terang dan tegas risalahmu."

Allah SWT berfirman lagi,
"Ketahuilah, Aku sudah menempatkan matahari, bulan, malam dan siang di bawah perintahmu. Dan ketahuilah bahwa anak perempuan Habib akan Aku sembuhkan dari penyakit lumpuh dan kedua matanya yang buta akan pulih seperti semula."

Mukjizat Nabi Muhammad SAW
Setelah Malaikat Jibril membacakan ayat Allah SWT, tiba-tiba saja terjadilah peristiwa yang sangat mengagumkan.
Matahari dengan perlahan bergerak ke ufuk barat lalu terbenam. Cahaya siang berganti dengan malam. Stelah itu bulan pun terbit lalu terbelah menjadi dua. Bulan yang terbelah itu pun turun menghampiri Nabi SAW dan masuk ke dalam jubah Beliau.

Kemudian bulan yangbterbelah itu pun keluar dari lengan baju kanan dan kiri dan bersatu tepat di atas kepala Rasulullah SAW sambil mengucapkan syahadat. Setelah itu, bulanpun bergerak kembali ke tempat asalnya lalu terbenam di ufuk barat. Stelah bulan terbenam, matahari pun perlahan muncul seperti semula dan suasana kembali seperti saat pertemuan awal Raja Habib dan Nabi SA.

Orang-orang pun kagum dengan kejadian itu.
Raja Habib yang menyaksikan secara langsung kejadian itu langsung bertobat, ternyata yang namanya jelek di mata Abu Jahal adalah benar-benar memiliki mukjizat yang lebih dahsyat ketimbang mukjizatnya nabi-nabi yang terdahulu. Ia pun langsung sujud sebagai tanda iman kepada Allah SWT, Pencipta Alam Semesta dan Rasul-Nya.

Malah sebagai tanda ucapan terimah kasih kepada Nabi Muhammad SAW, Raja Habib mengirimkan hadiah berupa emas, intan, dan permata yang banyak. Bahkan emas tersebut harus diangkut oleh 5 ekor onta.

Itulah sahabat, salah satu MUKJIZAT Rasulullah SAW yang paling dahsyat, bisa disaksikan oleh semua orang yang ada di bumi bahkan oleh makhluk hidup lainnya. Andai saja pada waktu itu ada ponsel atau kamera handycam, bisa diabadikan sehingga makin banyak pengikut Islam di muka bumi ini. Namun apa daya saat itu belum ada teknologi seperti itu, namun ayat-ayat Allah SWT telah membenarkannya. Dan isi Al-Qur'an ini tiada satu pun orang yang mampu merubah apalgi menyainginya.

Alhamdulillah sahabat, akhirnya selesai juga admin menulis kisah Raja Zalim Bertobat karena Melihat Bulan Terbelah walau memakan waktu 3 hari dikerjakan secara bertahap.
Unknown Kisah Islami