buku
Image and video hosting by TinyPic
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Thursday, 30 May 2013

‘Masa Tuhan Bisa Mati?’ & Anthony Pun Masuk Islam

ANTHONY Vatswaf Galvin Green lahir Dar es Salam, Tanzania. Ibunya seorang Katolik yang taat dan ayahnya seorang agnostik, dan sejak kecil Anthony dididik sebagai seorang Katolik yang taat.  Ayahnya seorang administrator kolonilal kerajaan Inggris. Kini, kerajaan yang terbentang begitu luasnya lebih dari sepertiga permukaan bumi itu telah hancur. Satu-satunya yang tersisa adalah beberapa pulau di Falklands. Begitu banyak hal yang berubah, termasuk Antony, bahkan namanya kini berubah menjadi Abdur Raheem Green—setelah ia masuk Islam tentunya.
Oleh ibunya, Anthony kecil adiknya, Duncan disekolahkan di asrama biara. Setiap hari ia hidup bersama para biarawan di Ampleforth College, di Yorkshire, Inggris Utara. Sang ibu menganggap dengan bersekolah di asrama akan membuat Anthony menjadi penganut Katolik yang taat.

“Seharusnya ibu juga menikah dengan seorang Katholik, tapi karena ibu menikah dengan ayah yang agnostik, ia merasa menjadi seorang penganut Katolik yang buruk. Maka, ia ingin menjadikanku seorang Katolik yang taat,” terang Anthony.

Saat Anthony berumur sembilan tahun, sang ibu mengajarinya sebuah doa yang biasa diucapkan oleh umat Katholik. Doa itu dimulai dengan kalimat “Salam maria, ibu Tuhan”. Namun, kalimat itu membuat Anthony heran.  Bahkan dalam usianya yang baru sembilan tahun, kalimat itu seperti pukulan pertama, mendengar ibu berkata salam maria ibu Allah

“Aku kemudian bertanya pada diri sendiri bagaimana Tuhan bisa memiliki ibu?” katanya. Ia berpikir Tuhan seharusnya tanpa awal dan tanpa akhir. Bagaimana bisa Tuhan memiliki seorang ibu? Anthony kecil kemudian mengambil kesimpulan “jika Maria adalah ibu Tuhan, maka pasti Maria menjadi Tuhan lebih baik daripada Yesus.”

Belum lagi soal pelajaran di sekolahnya yang semakin membuatnya galau. Di sekolah, dalam satu kali setahun selalu ada pengakuan dosa kepada pastor. “Kamu harus mengakui semua dosa, jika tidak maka pengakuan dosa-dosamu tidak akan diampuni,” demikian kata sang pastur yang terus diingat oleh Anthony.
Anthony merasakan keimanannya semakin bermasalah. Pikirannya mulai liar, ia bahkan memiliki ide “Tuhan menjadi manusia”.

Pikirannya mulai terbuka. Ia sering bertanya mengapa harus sekolah di asrama, jauh dari siapapun dan dimanapun. Saat berusia sebelas tahun, sang ayah dipindah tugaskan ke Mesir. Ayahnya menjadi General Manager Barclays Bank di Kairo. Hampir selama sepuluh tahun, ia selalu menghabiskan waktu liburan di Mesir. Sekolah di London, dan liburan di Mesir.

Ia mulai jatuh cinta pada Mesir. Saat kembali ke sekolah seusai liburan, ia bertanya untuk apa kembali ke asrama Yorkshire Moor, ia merasa tak menyukai tempat itu. “Saya mulai bertanya pada diri sendiri mengapa saya ada, apa tujuan hidup saya, hidup ini untuk apa?”

Ia lantas mulai mencari jawaban, memulai pecarian. Pencarian itu barangkali bisa ditemukan melalui agama lain yang mungkin bisa memberikan  pemahaman tentang tujuan hidup.

Sepuluh tahun waktu yang di ia habiskan di Mesir. Ada satu masa saat ia berumur 19 tahun berbincang tentang Islam dengan seseorang. Ia memang meragukan Katholik sebagai agamanya. Tapi saat itu siapapun yang mempertanyakan agamanya itu, ia akan tetap membela keimanannya. Ia merasakan ini sebagai sebuah paradoks yang aneh.

“Aku berbincang dnegan orang itu selama 40 menit. Pemuda itu memintaku menjawab beberapa pertanyaan darinya,” katanya.

Si pemuda

menanyakan “Apakah kau mempercayai Yesus?”, Anthoni menjawab “Ya”. Pemuda itu kemudian bertanya lagi, “Apakah kamu percaya Yesus mati disalib?”, Anthoni kembali menjawab “Ya.”
Si pemuda kembali bertanya “Jadi kamu percaya Tuhan mati?”.

Seketika Anthony terperangah, menyadari sebuah ironi. Sambil mengakui kebodohan dirinya, ia menjawab, “Tentu saja saya tidak percaya Tuhan mati. Manusia tidak bisa membunuh Tuhan,” tandas Anthony.

Pertemuan dengan pemuda Mesir itu menjadi titik balik dalam kehidupan Anthony. Sebelumnya ia tak pernah bermimpi bahkan memikirkan tentang Islam. Anthony berpikir bahwa karena taka da agama, maka ia harus jadi orang kaya.  Ia berpikir bagaimana menghasilkan uang tapi hanya sedikit usaha. “Siapa yang ingin mengabiskan banyak waktu untuk bekerja?” pikirnya. Ia mengingat orang Inggris yang memiliki banyak uang tapi mereka bekerja terlalu keras, bahkan sampai terjadi revolusi industri. Orang Amerikapun harus berjuang keras untuk menjadi kaya. Orang Jepang pun dikenal sebagai penggila kerja.

“Kemudian saya berpikir tentang orang Arab. Mereka duduk di atas unta dan berteriak ‘Allahu Akbar’, tapi mereka kaya,” ujarnya.
Anthoni merasakan ketertarikan luar biasa untuk membeli Alquran. Ia mengambil terjemahannya. “Aku tak ingin mencari kebenaran. Aku hanya ingin tahu apa isi kitab suci ini,” katanya.

Anthony adalah pembaca yang cukup cepat. Ia membaca Alquran saat berada di kereta api. Seketika itu pula ia menyimpulkan dan berkata pada diri sendiri, “Jika saya pernah membaca buku yang berasal dari Tuhan, maka ini dia bukunya.”


Ia menyakini Alquran itu berasal dari Allah. Ketika menyadari itu ia mulai bergerak lebih jauh, tak hanya membaca Alquran saja, tapi untuk mengamalkannya juga. “Sama saja seperti kita melihat apel yang terlihat harum, kita tak akan pernah tahu rasanya kalau tidak mencicipinya,” katanya.

Tertarik dengan pengamalan Alqurlan ia pun mulai mencoba untuk shalat meski saat itu ia belum resmi mengucap syahadat. Tak tahu bagaimana cara shalat, ia mengingat-ingat bagaimana seseorang yang pernah ia temui di Mesir melakukan shalat. “Saya mengingat seorang lelaki shalat dengan cara yang lebih indah dibandingan saya ketika saya masih menjadi Katholik,” ingatnya.

Suatu hari Anthony pergi ke toko buku yang kebetulan berada di dalam masjid. Toko itu memiliki koleksi buku tentang Muhammad dan tata cara shalat. Seorang pria menanyakan apakah ia seorang Muslim. Anthony lantas menjawab, “Apakah saya Muslim, apa yang ia maksud dengan itu? Saya bilang ‘Ya saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusannya’.”

“Ah, bila demikian, Anda Muslim. Ini waktunya shalat, mari kita shalat,” ajak lelaki itu.

Anthony kebetulan datang ke toko buku itu saat hari Jumat. Ia yang tak paham gerakan shalat hanya berusaha shalat dengan gerakan yang ia tahu saja. Masih salah disana-sini. “Setelah itu orang-orang mengelilingi saya dan mengajarkan saya cara shalat yang benar. Itu rasanya fantastis!”

Namun butuh dua tahun sebelum akhirnya ia resmi bersyahadat dan menjadi Muslim. Anthony mengaku menyesal telah menyia-nyiakan waktu dua tahun sebelum menjalani Islam dengan baik. “Aku tahu kebenaran tapi tak segera menjalankannya. Itu adalah kondisi yang buruk. Jika kita tidak tahu, maka tidak dikenai dosa. Tapi masalahnya saya tahu apa yang benar,” katanya. Kini Anthony telah berganti nama menjadi Abdur Raheem Green. Seorang Muslim. [islampos]

Ingin Mengulang Jalan Kemuliaan Islam? Genggamlah Ketiga Pilar ini …

 Syeikh Hasan Al Banna

Para sahabat yang merupakan pilar masyarakat dakwah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam  memiliki tiga pilar  utama untuk tegaknya kekuatan dakwah dalam jiwa kelompok tersebut. Seandainya ketiga hal itu berhasil terwujud di dalam diri kita sebagaimana yang telah terwujud dalam diri para sahabat, niscaya kita akan dibawa melangkah di jalan kemuliaan dan kemenangan, sebagaimana yang telah terjadi pada mereka.
Pertama adalah unsur keimanan yang sempurna. Keimanan inilah yang membersihkan mereka dari keinginan apa pun selain dakwah. Mereka telah mendengarkan seruan, “Maka segeralah kembali kepada Allah.” (QS. Adz-Dzuriyat: 50)

Mereka menjadikan Laa ilaaha ilallah sebagai slogan, pada saat yang sama mencampakkan slogan selainnya. Orang-orang musyrik berada dalam kesesatan, karena mereka mempertuhan selain Allah. Orang-orang Persia berada dalam kesesatan karena mereka mengabdi kepada nafsu dan syahwat. Ahli Kitab berada dalam kesesatan karena mereka menjadikan para pendeta dan orang-orang alim mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Bumi ini secara keseluruhan berputar di atas poros kesesatan, karena tidak mendapatkan petunjuk dan tidak mengambil cahaya dari Allah. Sedangkan mereka berada di atas kebenaran yang nyata karena mereka telah menghindari penyembahan kepada berhala dan hawa nafsu serta menyerahkan seluruh pengabdian kepada Allah.

Mereka tidak beribadah kecuali kepada Allah, tidak patuh kecuali kepada Allah, tidak bergantung kecuali kepada Allah, tidak memohon kecuali kepada Allah, dan tidak merasakan kebahagiaan kecuali karena berdekatan dengan Allah. Mereka tidak merasa menderita kecuali oleh dosa yang menjauhkan dari Allah. Semua itu merupakan faktor pertama yang menyatukan hati mereka, karena mereka tidak berafiliasi kepada si Fulan atau si Fulan.

Bapakku Islam, tidak ada bapak selainnya bagiku

Ketika orang-orang berbangga dengan Qais dan Tamim

Mereka tahu bahwa bumi ini milik Allah yang diwariskan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dan bahwa kesudahan yang baik akan diperoleh orang-orang yang bertaqwa. Segala perbedaan yang biasanya mencabik kelompok-kelompok dan menjauhkan hati seseorang dari yang lainnya, musnah, lantaran mereka telah diwarnai dengan sibghah (celupan) Allah. “Sibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik sibghahnya daripada Allah?” (QS. Al-Baqarah:138)

Kedua, unsur cinta, kesatuan hati, dan keterpautan jiwa. Faktor apalagi yang bisa menjadikan mereka berselisih? Apakah mereka akan berselisih gara-gara kenikmatan dunia yang fana ataukah karena perbedaan gaji, tugas, dan status, sedangkan mereka mengetahui bahwa, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)


Jadi tidak ada faktor-faktor yang mengakibatkan mereka terpecah-belah. Mereka bersatu dan bersaudara, yang satu tidak menghinakan yang lain, tetapi masing-masing mencintai saudaranya dengan sepenuh kecintaan, kecintaan yang mencapai tingkatan itsar (mengutamakan orang lain). “Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (QS. Al-Hasyr: 9)

Mereka juga senantiasa menghayati firman Allah, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan- Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Ketiga, adalah unsur pengorbanan. Mereka telah paham semua ini, sehingga rela memberikan apa saja untuk Allah, sampai-sampai ada di antara mereka yang merasa keberatan mengambil ghanimah yang telah dihalalkan oleh Allah untuk mereka. “Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik.” (QS. Al-Anfal: 69). Terhadap hal ini pun mereka merasa keberatan dan menghindari. Mereka meninggalkannya karena mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala agar amal mereka tidak dikotori oleh ambisi pribadi.

Ketiga unsur ini, yaitu keimanan yang membersihkan diri mereka dari pikiran apa pun selain ma’rifatullah dan ukhuwah yang mengikat hati mereka sehingga seakan-akan menyatu, dan pengorbanan yang mendorong mereka untuk memberikan jiwa dan harta dalam rangka menggapai ridha Allah, yang menyebabkan mereka tampil dalam profil seperti ini. Faktor-faktor inilah yang telah mengeluarkan sekelompok manusia tersebut dari kehinaan kepada kemuliaan, dari perpecahan kepada persatuan, dan dari kebodohan kepada ilmu. Mereka adalah pemberi petunjuk bagi umat manusia dan calon-calon pengantin di surga.

Perasaan ini, Ikhwan sekalian, meluap di dalam diri saya ketika saya berdiri melihat Anda semua dalam shaf, dan ketika berdiri berceramah di hadapan Anda semua. Saya memohon kepada Allah agar menjadikan kita sebagai pengganti-pengganti mereka, agar kita memurnikan iman kita kepada Allah, agar Dia menjadikan kita orang-orang yang bercinta karena Allah, bersatu di atas kalimat-Nya, sebagaimana mereka telah bersatu dan memberikan sesuatu untuk menggapai ridha Allah. Ya Allah, kami menginginkan yang demikian itu; maka jadikanlah kami, ya Allah, demikian.
Unknown Renungan
Saturday, 25 May 2013

Terapi Sang Nabi SAW dalam Mengobati Penyakit Melalui Sentuhan Psikologis


Dalam kitab Sunan Ibnu Majah menuturkan Hadis riwayat Abu Said al-Khudri. Ia menuturkan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Jika kalian menjenguk orang sakit, maka hiburlah di dalam menghadapi suratan takdir. Hal yang demikan itu memang tidak mengembalikan keadaan, akan tetapi akan memperbaiki kondisi kejiwaan insan yang sakit.”



Hadis tersebut mengandung pembelajaran etika yang sangat luhur, serta metode pengobatan yang agung.

Rasulullah SAW mengajarkan cara penyembuhan penyakit melalui sentuhan psikologis, yaitu membimbing kondisi psikis si sakit kepada hamparan keceriaan, optimisme, dan keyakinan akan ketentuan takdir-Nya. Hal seperti itu dapat memperbaiki jiwa si sakit, misalnya dengan membangun

komunikasi dengan ucapan-ucapan santun, lelucon segar yang berbungkus nasehat konstruktif, yang dapat membuncakan semangat dan optimisme dalam diri si sakti, mendigdayakan mentalnya, membangkitkan staminanya, atau bahkan merangsang tubuh secara wajar dan alami, sehingga si sakit merasa lepas dan teringankan beban sakitnya.

Itulah target pencapaian yang selalu menjadi tujuan bagi paramedis saat menangani pasiennya. Menghibur jiwa orang yang sakit, memperbaiki mental, dan menyentuh jiwanya adalah terapi yang manjur untuk proses penyembuhan penyakit. Hal tersebut dapat dengan cara membicarakan hal-hal yang dapat menimbulkan rasa senang,, bahagia, dan nyaman dalam diri si sakit. Terapi pengobatan dengan dengan sentuhan psikologis ini berpengaruh sangat dahsyat bagi usaha penyembuhan penyakit, setidaknya dapat meringankan sakit itu sendiri, dimana ruh dan energi tubuh semakain kuat oleh karena adanya hiburan tersebut. Dengan begitu, secara alami tabuh akan dapat mengusir unsur-unsur berbahaya pada dirinya sendiri.

Dalam kehidupan ini, jamak kita dapati orang yang jatuh sakit, kondisi sakitnya berangsur membaik usai dijenguk oleh orang-orang yang dicintainya, atau orang-orang yang dimuliakannya. Dengan mengobrol, bercengkrama, bercurah hati, atau bercanda dengan orang tercinta dan terkasih. Maka tiba-tiba kondisi kesehatannya berangsur-angsur pulih. Itulah salah satu hikmah di balik perintah menjenguk orang sakit yang diserukan oleh Nabi SAW, bahwa kunjungan tersebut merupakan obat yang ampuh bagi si sakit, serta jalan yang lapang menuju kesembuhannya. Hal tersebut merupakan sebuah terapi yang mungkin tak terpikirkan di benak paramedis yang “menuhankan” logika dan “gila” analisa serta diagnosa.

                Selain itu, menjenguk orang sakit bisa melahirkan empat daya guna, yaitu;

      1.       Keuntungan bagi insan yang sakit.

      2.       Keuntungan bagi orang yang menjenguk.

      3.       Keuntungan bagi keluarga orang yang sakit.

      4.       Keuntungan bagi masyarakat umum.

Dalam uraian terdahulu telah dijelaskan bahwa manakala Rasulullah SAW menjenguk orang yang sedang sakit, Penghulu Nabi-Nya ini menanyakan keluhan-keluhan yang diderita si sakit serta kondisi tubuhnya terkini. Rasulullah SAW juga menanyakan “menu” makanan apa yang diinginkan si sakit, kemudian memerintahkan untuk memenuhi keinginan si sakit.

Rasulullah SAW juga meletakkan tangan sucinya di atas kening si sakit, kadang meletakkan tangannya di dada orang sakit yang dijenguknya. Penghulu Nabi-Nya ini juga medoakan si sakit, memberitahukan “resep” obat terbaik, dan terapi penyembuhan yang tepat untuk kesembuhan si sakit. Kadang pada waktu menjenguk orang sakit, Rasulullah SAW mengambil air wudhu, lalu memercikkan air wudhunya ke tubuh si sakit. Kadang Beliau berkata, “Tidak apa-apa (tidak berbahaya), mudah-mudahan (sakit ini) menjadi pelebur dosa, insya Allah.” Semua hal tersebut itu dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk menyentuh jiwa dan menunjukkan betapa besar bentuk perhatian dan kelembutan sikapnya terhadap insan yang sakit. Sentuhan psikologis yang berupa perhatian terhadap insan yang sakti. Sentuhan psikologis yang berupa perhatian yang utuh, ujaran yang menyentuh hati, dan membuncahkan kegembiraan adalah teladan yang diberikan Sang Rasulullah SAW dalam mengobati penyakit. 
Unknown Renungan
Thursday, 23 May 2013

Ada Apa Dengan Acara Musik Pagi-Pagi?


Entah kapan mulainya, namun di Indonesia, acara-acara teve, hampir tak pernah jelas—di tahun 2009, ada segerombolan anak-anak remaja bau kencur, pagi-pagi sekali sudah nongkrong di mall-mall yang ada di ibukota. Entah apa mereka mandi ataukah tidak. Entah pula apakah mereka melaksanakan shalat Shubuh ataupun tidak.


Tapi hey, apa yang mereka lakukan di mall pada jam-jam itu ketika anak-anak seusia mereka seharusnya belajar di kelas? Tapi, tampaknya itu pun bukan sesuatu yang penting. Mereka berkumpul di mall, atau di pusat keramaian, menghadiri perhelatan acara-acara musik pagi hari berbagai stasiun televisi swasta. Kemudian, tiba-tiba mereka terkenal dengan sebutan anak-anak ‘alay’.
Acara musik itu tidak hanya satu stasiun saja. Tapi juga hampir semua stasiun televisi yang ada saat ini. Mulai dari pagi buta, sampai menjelang dhuhur. Ini memang imbas dari sebuah acara yang ngetop, karena televisi mempunyai prinsip “Me Too Program.”

Acara-acara musik itu, konon, dibuat untuk segmentasi remaja. Benarkah begitu? Simak coba sebuah keluh-kesah seorang remaja berikut ini: “sebenernya gw nggak suka acara itu abis ditayangkan tiap hari tiap pagi ade gw selalu klik chanel yang isinya acara music. duch.. bikin bete, masa pagi2 acara tiap hari itu… kesannya tiap hari yang gw jalanin seakan2 sama aza tiap pagi di suguhin acara begituan, emak gw aza ampe protes…”


Dampak pada kalangan remaja dari acara-acara seperti ini, yaitu mulai ditemui remaja-remaja yang melakukan imitasi terhadap  budaya pop dan instan, mulai dari gaya rambut, model pakaian, aksesoris, sampai pola hidup dan cara berinteraksi dengan teman sebaya. Hal ini juga ditegaskan oleh pernyataan para remaja bahwa  mereka sangat menyukai budaya pop. Salah satu alasannya adalah keindahan gaya atau style para artis-artis yang tampil, peduli amat apa mereka bisa bernyanyi atau bermusik ataukah tidak.


Islam mengatur setiap aspek dalam kehidupan mulai dari hal-hal yang remeh hingga perkara yang  kompleks. Dari urusan buang air kecil sampai urusan mengatur negara. Dan setiap manusia yang mengaku beragama Islam, ia terikat sepenuhnya kepada
seluruh hukum Islam tanpa terkecuali. Tidak dibenarkan baginya menerima dan mengadopsi satu hukum Islam sementara menolak untuk menerapkan hukum yang  lain. Oleh karena itu, dalam memandang permasalahan ini, kita sebagai muslim harus melihatnya dengan sudut pandang Islam—dan agaknya yang belum sampai kepada anak-anak muda Islam kita kebanyakan sekarang ini.

Jika mendengarkan musik  sampai melalaikan shalat, liriknya mengarah pada pemujaan terhadap lawan jenis dan mengandung kemusyrikan, maka aktivitas mendengarkan musik menjadi aktivitas yang  haram. Jadi masalah lain dalam kasus ini adalah jika si remaja juga mulai mengidolakan para penyanyinya hingga semua yang berkaitan dengan mereka diikuti, dari penampilan hingga gaya hidup mereka.


Pertanyaannya, apakah gaya hidup mereka sesuai dengan hukum Islam hingga layak untuk diikuti? Tentu saja jawabannya tidak. Para personel Girl Band misalnya, mereka memakai pakaian-pakaian minim yang memperlihatkan aurat mereka. Setali tiga uang dengan Girl Band, Boy Band pun sama saja. Rata-rata musik mereka menggambarkan gaya hidup remaja yang penuh hura-hura. Tidak layak sedikit pun gaya hidup seperti ini diikuti oleh  kaum muslim, khususnya remaja-remaja muslim.


Dan batas-batas pun diterabas. Acara-acara musik itu tak punya lagi rasa penghormatan terhadap ciptaan Allah SWT. Orang bodoh itu ada sebabnya. Namun, orang berwajah biasa (baca: kampungan dan pas-pasan) tentu karena anugerah dari Allah SWT. Jika bisa meminta, semua manusia yang lahir ke dunia ini diberikan rupa yang cantik dan ganteng secara absolut, diakui oleh semua kalangan. Itu yang tak bisa dipilah oleh para pemandu acara-acara musik itu.


Namun, seperti sebuah acara talk show malam hari yang juga berulang kali dicekal namun kemudian muncul lagi dengan nama lain dan nama yang sama, acara-acara musik ini akan muncul banyak-banyak pula di waktu-waktu mendatang. Jadi, “The Acara Musik Remaja Pagi-Pagi” masih mungkin menghias layar kaca kita. Sebaiknya, mulai dari sekarang, matikan saja atau cari saluran lain yang menyuguhkan berita informatif ketika anak-anak kita asyik menontonnya. [rk-i]
Unknown Renungan

Karena Rasul Juga Melakukannya


 Seorang suami adalah partner untuk istrinya. Begitu juga dengan seorang istri, partner untuk suaminya. Atas dasar itu, maka seorang suami juga patutlah kiranya tidak segan membantu pekerjaan-pekerjaan istrinya. Kenapa memangnya?

(1) Suami yang mencuci baju sendiri bukan karena ingin menyenangkan istrinya, bukan karena takut tangan istri menjadi kasar, tapi KARENA RASULULLAH SAW MELAKUKANNYA.


(2) Suami tidak bersuara keras pada istri bukan karena takut dengan istrinya akan marah dan pergi dari rumah, tapi KARENA RASULULLAH SAW MELAKUKANNYA.

(3) Suami sabar dan diam ketika istri menuntut hal-hal diluar batas kemampuannya bukan karena takut ditinggalkan sang istri, tapi KARENA RASULULLAH SAW MELAKUKANNYA.


(4) Suami tersenyum melihat istrinya cemburu kepada perempuan lain bukan karena takut kepada istrinya, tapi KARENA RASULULLAH SAW MELAKUKANNYA.

(5) Suami memakan makanan istrinya yang asin atau pun yang keras bukan karena mencoba romantis di depan istri, tapi KARENA RASULULLAH SAW MENGHARGAI MASAKAN ISTRINYA.

(6) Suami mengumpulkan sejumlah dana untuk disimpan istri bukan karena bodoh dalam mengatur keuangan, tapi KARENA RASULULLAH SAW MELAKUKANNYA.

(7) Suami merawat anak-anak kecil ketika mereka sakit bukan karena mereka cocok jadi perawat pribadi, tapi KARENA RASULULLAH SAW MELAKUKANNYA. [rk-i] 
Unknown Renungan
Wednesday, 22 May 2013

Wasiat Malaikat kepada Rasulullah SAW pada Peristiwa Isra Mi’raj


Wasiat Malaikat kepada Rasulullah SAW pada Peristiwa Isra Mi’raj

1. Dari Ibnu ‘Abbas ra., Rasulullah bersabda: “Tidaklah aku berjalan melewati segolongan malaikat pada malam aku diisra’kan, melainkan mereka semua mengatakan kepadaku: ‘Wahai Muhammad, engkau harus berbekam.’”
2. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., dia berkata: “Rasulullah SAW pernah menyampaikan sebuah hadits tentang malam dimana beliau diperjalankan bahwa beliau tidak melewati sejumlah malaikat melainkan mereka semua menyuruh beliau dengan mengatakan: ‘Perintahkanlah umatmu untuk berbekam.’”

3. Dari Ibnu ‘Umar ra., Rasululah SAW bersabda: “Tidaklah aku melalui satu dari langit-langit yang ada melainkan para malaikat mengatakan, ‘Hai Muhammad, perintahkanlah umatmu untuk berbekam, karena sebaik-baik sarana yang kalian pergunakan untuk berobat adalah bekam, al-kist, dan syuniz semacam tumbuh-tumbuhan.”

Sumber: Judul Buku: “Bekam cara pengobatan menurut sunnah Nabi” Penulis: DR. Muhammad Musa Alu Nashr

Ngalap Berkah Yang Aneh

Dikisahkan bahwa para pengikut al-Hallaj  sangat berlebihan dalam ngalap berkah padanya, sehingga mereka ngalap berkah dengan air kencingnya dan kotorannya. (Lihat Tarikh Baghdad 8/136-138 dan al-I’thisham 2/10 oleh asy-Syathibi)

Lebih parah lagi dari itu pada zaman sekarang, di Sudan ada yang ngalap berkah dengan cara berhubungan intim suami istri di kuburan wali dengan alasan untuk cari keberkahan dan agar kelak mendapatkan anugerah anak shalih(!). (Lihat at-Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu hlm. 473-474 oleh Dr. Nashir al-Juda’i)


Setelah kuperhatikan, ternyata di negeriku ini ada yang mirip dengan kasus di atas bahkan mungkin lebihDikisahkan bahwa para pengikut al-Hallaj  sangat berlebihan dalam ngalap berkah padanya, sehingga mereka ngalap berkah dengan air kencingnya dan kotorannya. (Lihat Tarikh Baghdad 8/136-138 dan al-I’thisham 2/10 oleh asy-Syathibi)


Lebih parah lagi dari itu pada zaman sekarang, di Sudan ada yang ngalap berkah dengan cara berhubungan intim suami istri di kuburan wali dengan alasan untuk cari keberkahan dan agar kelak mendapatkan anugerah anak shalih(!). (Lihat at-Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu hlm. 473-474 oleh Dr. Nashir al-Juda’i)


Setelah kuperhatikan, ternyata di negeriku ini ada yang mirip dengan kasus di atas bahkan mungkin lebih
Unknown Renungan
Tuesday, 14 May 2013

Ciri Wanita di Akhir Zaman Yang Akan Masuk Neraka


“Sesungguhnya di antara tanda-tanda akan datangnya hari kiamat adalah: diangkatnya ilmu, merebaknya kebodohan, merajalelanya perzinahan, merajalelanya khamar (minuman keras/alkohol), sedikitnya jumlah laki-laki, banyaknya jumlah wanita sehingga limapuluh wanita dipimpin oleh satu orang laki-laki,” (HR. Bukhari)

Beberapa hadits Rasul menggambarkan kepada kita mengenai keadaan kaum wanita menjelang hari akhir. Lalu yang menjadi pertanyaan dan patut kita renungi sebagai kaum wanita adalah; telah tampakkah keadaan-keadaan yang Rasulullah Saw gambarkan tersebut? Mari kita lihat beberapa realita fenomena wanita di zaman sekarang ini.


Berikut adalah ciri-ciri wanita di akhir zaman sekarang ini:

1. Tabarruj

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan “perhiasannya” dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki.

Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Barr rahimahullah ketika menjelaskan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tersebut.

Ibnul ‘Abdil Barr menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakikatnya … .”

Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan “perhiasan” mereka, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang hal ini dalam firman-Nya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.”  (An Nur : 31)

“ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan wanginya surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

2. Kufur terhadap suami dan kebaikan-kebaikannya  

Yakni seorang istri yagn mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri sebagaimana kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari.

Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al Insyirah fi Adabin Nikah halaman 76)

3. Wanita yang senang begunjing/ gosip

Rasulullah saw. Menegaskan pengertian bergunjing sebagai berikut:


“Tahukah kalian apa ghibah itu?”. Mereka menjawab: “Hanya Allah dan Rasul-Nya jualah yang tahu”. Maka beliau bersabda, menjelaskan: “Memperbincangkan saudaramu tentang apa yang tak disukainya”. Lalu Tanya mereka pula: “Kalau yang diperbincangkan itu benar, ya, Rasulullah?”. Rasulullah menjawab: “Kalau yang diceritakan itu benar, maka engkau telah melakukan ghibah terhadap saudaramu itu. Kalau yang dibicarakan itu tidak benar, maka engkau telah melakukan kepalsuan terhadap saudaramu”.

Dalam suatu hadists yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah saw. Bersabda, “Orang yang menutup ‘aib orang lain di dunia, niscaya Allah menutup ‘aibnya pula kelak di hari kiamat.”

Rasulullah saw ketika ditanya tentang kebanyakan hal-hal yang dapat memasukan manusia ke dalam neraka, beliaupun menjawab, “Mulut dan kemaluan!” (HR Tirmidzi)

Kita seringkali membicarakan perilaku jelek seseorang tanpa mengetahui alasan mengapa ia berbuat demikian entah di sosial media, media tv,  maupun di dunia nyata, dan media lainnya,,,,

Padahal seharusnya manusia itu dinilai dari niatnya. Bisa saja seseorang mempunyai niat yang baik, tetapi karena kurangnya wawasan maka tindakannya terkesan tidak simpatik.

Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya segala amal itu ditinjau dari niatnya, dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang diniatkan.”

4. Wanita yang menabur fitnah

“Aku tidak meninggalkan satupun fitnah sepeninggalku yang lebih membahayakan para lelaki kecuali para wanita.” (HR. Al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)

Dari hadist diatas disebutkan bahwa fitnah wanita lebih berbahaya jika keluar dari mulutnya

Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh  dunia yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita.

Dan berapa banyak persaudaraan terputus hanya dikarenakan wanita?

Berapa banyak seorang anak tega dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita?

Dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya surga.

Hanya dengan ucapan dan rayuan seorang wanita, wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkan diri dihadapan kaum pria.

Sungguh merugi wanita-wanita yang melakukan hal ini. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada jalan ke Surga, karena memang biasanya wanita yang melakukan hal-hal ini ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu.

Tidak mengherankan lagi jika di sana-sini terjadi pelecehan, pemerkosaan terhadap kaum wanita, karena yang demikian itu adalah hasil dari perbuatan dari kaum mereka sendiri.

“Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali. Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahzab : 59). Allahu alam bi shawwab. [] 
Unknown Renungan
Saturday, 2 March 2013

Kisah Perjuangan Anak-Anak Palestina Menjenguk Ayahnya Dipenjara Israel


Bertemu dengan ayah sangat mahal dan berisiko bagi anak-anak Palestina yang ayahnya ditahan di penjara Israel. Mendapat ijin hanya sekali setiap dua minggu. Kisah yang menyentuh hati, mengingat penderitaan anak-anak kecil Palestina yang ingin bertemu, melihat dan mengharap belaian kasih sayang dari seorang Ayah, walau hanya dapat melihat dari balik kaca dan cuma dapat bersentuhan ujung jari.

Jinan adalah salah satu anak yang berumur 6 tahun yang setiap hari Senin setiap dua pekan mengunjungi ayahnya Ali Nazal, dipenjara Chattah-Gilboa, Israel. Aktivitas mengunjungi sang ayah sudah dilakukan sejak dua tahun belakangan ini dan bisa jadi merupakan pembesuk paling muda.

Biasanya Jinan pergi sendiri, namun belakangan ia melawat sang ayah bersama kedua adiknya Dania (4) dan Nur (2), mereka bertiga bersiap sejak sebelum fajar. Salam Nazal sang ibu mendandani ketiga putrinya dan tidak ketinggalan bekal makan siang untuk ketiga putri nya tersebut.

Ketiga anak-anak Palestina tersebut tidak paham mengapa sang ayah mendekam dinegara Zionis tersebut, karena itu setiap akan menjenguk Ayahnya, sang kakak Jinan selalu bertanya kepada ibunya, ”Mami…mengapa ayah selalu tidur di Israel?”. Salam Nazal punya satu jawaban jitu yang cukup menghibur anak-anaknya, ” Karena disanalah tempat tidur untuk orang-orang Palestina terbaik, dan Ayahmu salah satu diantara mereka. “

Ali Nazal (35) sebelumnya hanya pedagang pakaian dipinngir jalan, meski baru akan diadili, ia sudah mendekam dipenjara Israel selama dua tahun. Ia terancam hukuman 10 tahun jika terbukti memiliki senjata dan menyembunyikan seorang buron. Dakwaan ini sebenarnya sama sekali tidak terbukti karena informasi yang diberikan informan Palestina salah.

Perjalanan dari rumah Jinan di kota Qalqilya, Tepi Barat ke penjara Chattah Gilboa sebenarnya hanya membutuhkan waktu dua jam, namun karena kota-kota di Tepi Barat telah dikelilingi oleh tembok pemisah yang hanya mimiliki satu pintu keluar masuk, maka waktu perjalanan molor menjadi hingga lima jam.

Sang ibu, Salam Nazal tidak pernah dapat menemani anak-anaknya membesuk sang Ayah, karena ia masuk daftar pengawasan militer Israel tanpa sebab yang jelas. Walau khawatir melepas ketiga putrinya tersebut, namun ia tetap tabah melepas kepergian putrinya yang masih sangat kecil itu. ”Apa yang dapat saya lakukan? hanya beginilah kesempatan anak-anak melihat ayah mereka,” ujar Sang Ibu saat mengantar Jinan dan kedua adiknya menaiki bus yang disewa oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC), karena Israel menolak menyediakan transportasi bagi pembesuk, sehingga semua menjadi tanggungan ICRC dan setiap bulan menyediakan bus bagi 20 ribu warga Palestina yang ingin membesuk keluarganya sekaligus mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan.

Meski hanya 45 menit, Jinan dan kedua adiknya Dania dan Nur tetap bersemangat dan bagi si bungsu Nur (2), ini kesempatan pertamnya bertemu sang Ayah karena saat Ali Nazal dipenjara, saat ini Nur masih berumur 6 bulan.

Dengan menggandeng tangan kedua adiknya, Jinan memasuki ruang tunggu. Bertemu dengan ayah mereka walau melalui telepon da terpisah kaca tebal. Lubang kecil yang ada membuat Ali Nazal hanya mampu menyentuh ujung jari ketiga putrinya bergantian.
Unknown Renungan

Kisah Cinta Pria Miskin Dan Wanita Kaya


Renungkanlah kisah cinta pria miskin dan wanita kaya ini. Kita tidak bisa menyelami semuanya untuk mengetahui makna cinta yang sebenarnya. Kita tidak pernah bisa tau bagaimana masa depan akan merubah seseorang. Setiap hidup, ada garis takdir yang terus berjalan,seiring nafas kita bekerja. Setiap manusia tidak hidup dari sesuatu yang tidak bertujuan. Kisah renungan yang sangat bagus ini bisa dibaca untuk menambah motivasi dan inspirasi serta perenungan.

Seorang Pemuda miskin mencintai seorang gadis kaya. Suatu hari Pemuda itu nembak si gadis.

Gadis itu berkata, "Dengar ya, gaji bulanan Anda sama dengan pengeluaran harianku..!

Haruskah aku pacaran dengan Anda? Aku tidak akan pernah mencintai Anda. Jadi, lupakan diriku dan pacaran dengan orang lain yang setingkat dengan Anda"

Tapi entah kenapa si Pemuda tidak bisa melupakannya begitu saja.

10 tahun kemudian, mereka bertemu disebuah pusat perbelanjaan.

Wanita itu berkata, "Hei Kamu!! Apa kabar?

Sekarang aku sudah menikah. Apakah kamu tahu, berapa gaji suamiku ? Rp.20 juta perbulan! Dapatkah kamu bayangkan ? Dia juga sangat cerdas".

Mata Pemuda itu berlinang air mata mendengar kata-kata wanita itu, Beberapa menit kemudian suami wanita itu datang. Sebelum wanita itu bisa mengatakan sesuatu,

Suaminya berkata :"Pak...?! Saya terkejut melihat Anda disini. Kenalkan istri saya."

Lalu dia berkata kepada istrinya, "Kenalkan Bossku, Boss masih lajang lho..

Dia mencintai seorang gadis tapi gadis itu menolaknya. Itu sebabnya dia masih belum menikah. Sial sekali gadis itu.. Bukankah sekarang tidak ada lagi orang yang mencintai seperti itu?. "

Wanita itu merasa terkejut dan malu sehingga tidak berani melihat kedalam mata si Pemuda.

Kadang orang yang kita sakiti dan kita hina jauh akan lebih sukses dari pada yang kita bayangkan, Setelah semua terjadi timbulah sebuah penyesalan dari dirinya. Kadang orang yang di hina akan memakai hinaannya untuk mengapai sebuah kesuksesan. Ini hanya sebagian cerita kehidupan nyata, Bukan harta yang akan membuat kita bahagia, tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.
Unknown Cinta, Renungan
Friday, 1 March 2013

kisah pilu seorang nenek yg hidup di dalam got selama 8 tahun!!


Sungguh sangat kasihan dan mengenaskan, seorang nenek hidup dalam got 8 tahun lamanya. Ternyata masih banyak masyarakat yang belum mempunyai tempat tinggal yang layak. Berbeda dengan hingar bingar nya kota. Tidak jauh dari Jakarta tepatnya di Jalan Mustika Sari, Kampung Babakan, Bekasi Timur, seorang nenek justru tinggal di selokan. Nenek Minah ini harus merasakan hidup di got selama delapan tahun. Ketika ditemui okezone, nenek berusia 68 tahun ini menceritakan kisah hidupnya yang menghabiskan hari tuanya di got.

“Saya sudah delapan tahun tinggal di sini, saya juga mempunyai anak,” ujarnya kepada okezone. Saat ini nenek Minah sudah ditinggal oleh suami tercintanya. “ Suami saya sudah meninggal,” ujarnya sambil mengelus dada.

Nenek Minah tidak meminta belas kasih masyarakat seperti pengemis pada umumnya. “Saya kalau makan beli sendiri, uangnya dari orang yang lewat saja,” pungkasnya.

Selain tinggal di dalam got, setiap harinya nenek Minah juga membersihkan sampah dan daun-daunan yang terletak di dalam got tersebut dengan sapu lidi yang dia bawa. Got tempat nenek Minah tinggal terlihat bersih, berbeda dengan got pada umumnya.

Tidak ada yang berbeda dari Nenek Minah ini dengan nenek lainya. Cara bicaranya seperti orang biasa dan tidak terlihat seperti keterbelakangan mental.

sumber: unik baca
Unknown Renungan
Thursday, 31 January 2013

Secangkir Kopi Pak Kiai…

SEROMBONGAN cendekiawan dan ulama muda datang mengunjungi Kiai Sepuh di sebuah pesantren kecil di desa. Meskipun dari pesantren kecil dan di desa pula, Kiai Sepuh ini kerap sekali menerima tamu dari berbagai kalangan untuk berbagai urusan. Kiai Sepuh ini terkenal dengan kemampuannya menyelesaikan berbagai persoalan yang rumit dengan caranya yang khas – sederhana dan agak mbanyol (ngelawak). Seperti biasa Pak Kiai akan mendengarkan dahulu masalah para tamunya, baru kemudian memberikan solusinya.

Maka satu demi satu rombongan cendekiawan dan ulama muda tersebut mengutarakan problemnya masing masing. Ada yang mengeluhkan problem dakwahnya yang mengalami hambatan di sana-sini karena kekurangan dana, ada yang mengeluhkan problem keluarganya, ada yang mengeluhkan hedonism masyarakat yang berpikiran serba materi, ada yang mengeluhkan kondisi umat yang semakin jauh dari tuntunan agamanya dlsb.




Setelah semua tamunya berkesempatan menyampaikan uneg-uneg mereka, Pak Kiai minta ijin tamunya untuk mengambilkan kopi di belakang – saking sederhananya Pak Kiai ini sampai tidak memiliki pembantu. Tidak lama kemudian Pak Kiai datang dengan membawa teko panas berisi kopi, didampingi istrinya yang membawakan sejumlah cangkir.

Karena kesederhaannya pula di antara cangkir-cangkir tersebut tidak ada yang sama bentuk, model maupun ukurannya. Menyadari akan adanya rasa penasaran para tamunya, Pak Kiai-pun menjelaskan : “Anu, itu cangkir-cangkir yang ditinggalkan para santri yang sudah lulus dan keluar dari pesantren ini…”. Kemudian dia menyilahkan tamunya : “Silahkan ambil sendiri kopinya…”.


Setengah berebut, para tamunya memilih cangkir-cangkir yang paling baik untuk mengambil kopinya. Jumlah cangkir memang cukup dan semuanya mendapatkan cangkirnya, tetapi tentu saja yang duluan yang mendapatkan cangkir yang paling bagus.


Sambil memperhatikan tamunya menikmati kopi dari
beraneka ragam cangkir, Pak Kiai –pun siap memberikan satu solusi untuk seluruh keluhan dan masalah yang disampaikan oleh tamu-tamu tersebut.

“Dari apa yang saya dengarkan tadi, dan dari cangkir-cangkir kopi yang kalian pegang – masalah kalian sebenarnya sederhana”. Dia melanjutkan : “Selama ini terasa rumit, karena kalian fokus pada cangkirnya bukan pada kopinya”. “Yang kalian butuhkan kopi karena yang meredakan dahaga adalah kopi – sedangkan cangkir hanyalah alat untuk bisa minum kopi”. “Bila kalian terlalu fokus pada alat, kalian tidak akan sampai pada tujuan….”

“Sekarang fokuslah pada kopi kalian, maka cangkir yang berwarna-warni beraneka bentuk tidak akan mengganggu kenikmatan kopi kalian…!”

Lalu Pak Kiai membacakan surat Ad Dzariyat – ayat 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Lalu beliau menutup nasihat pada para tamunya : “Selama kalian tidak kehilangan fokus pada tujuan hidup kalian yaitu menyembah kepadaNya, selama kalian hanya mengajak masyarakat kalian untuk menyembah kepadaNya, insyaallah kalian tidak akan terganggu oleh aneka persoalan, kepentingan, golongan, pemikiran, partai dan sejenisnya.”

Para tetamu hanya manggut-manggut sambil menginstrospeksi diri, mereka mengurai permasalahan mereka masing-masing di dalam hati. Dalam hati pula sebagian mereka berkata: “Jadi selama ini kita berebutan cangkir, sampai melupakan kopinya sendiri.”

Kita ini sesungguhnya seperti para tetamu Pak Kiai tersebut, kita terlalu fokus pada cangkir sehingga malah tidak bisa menikmati kopinya. Pekerjaan kita, usaha kita, komunitas kita dan bahkan juga keluarga kita sesungguhnya hanya cangkir berbagai bentuk tadi. Kopinya adalah tugas kita untuk hanya beribadat kepada Nya.

Boleh saja membagus-baguskan cangkir tetapi tetap harus dalam rangka untuk dipakai menikmati kopi. Semangat membaguskan cangkir tidak boleh melalaikan kita sampai lupa tidak mengisinya dengan kopi. Cangkir-cangkir tersebut juga bukan pajangan, yang dinikmati keindahannya tetapi tidak digunakan untuk fungsi yang seharusnya – yaitu minum kopi.

Sekarang waktunya untuk belajar menikmati rasa ‘kopi’ itu, keindahan cangkir bisa menambah kenikmatannya – tetapi jangan melalaikannya. InsyaAllah.*
Unknown Renungan

HIKMAH SECUIL KISAH


Suatu hari seorang laki-laki lewat dekat Asy'ab yang sedang menarik keledainya.

Laki-laki tersebut berkata kepada Asy'ab dengan tujuan becanda :"Sungguh aku sudah kenal siapa keledai anda hai Asy'ab.., akan tetapi saya tidak kenal siapa anda." [maksudnya keledai anda lebih bagus/ganteng dari tampang anda].

Asy'ab menjawab dengan cerdasnya :

"Tidak mengherankan kata-katamu itu..., sebab keledai dengan
keledai sudah saling

mengenal satu sama lain..!!"

HIKMAH :

Menilik pada cerita di atas, maka hal penting yang dapat kita petik adalah bahwa orang yang kita ejek

mendapat pahala dua kali: Pertama, ketika kita mengejeknya.Yang kedua ketika dia mendidik kita dengan

kata-kata hikmahnya.

Sedangkan kita mendapat dua keburukan: Pertama, kita telah mengejek seseorang yang pada dasarnya

dilarang oleh agama. Yang kedua, kita merasa sakit dengan sindirannya.

Intinya: Jangan mengejek seseorang. Bisa jadi, balasan orang yang kita ejek lebih menyakitkan dari

ejekan kita.

Semoga bermanfaat. Salam ukhuwah..!
Unknown Renungan

Nyata! Dendam Usai Dikentuti, Wanita ini Kutuk Perut Charles Sebesar Balon

 
Perut seorang anak lelaki berusia 12 tahun di Ghana membengkak seperti balon setelah dikutuk oleh seorang dukun wanita yang secara tak sengaja ia kentuti.
Charles Roji, 12, menceritakan pengalaman anehnya itu sebagai berikut kepada para pendengarNhyira FM yang kemudian dikutip oleh Ruanghati.com “Suatu hari ketika saya sedang bermain bola dan berhasil mencetak gol, Saya merasa sangat bahagia hingga saya buang angin, tepat ketika seorang wanita berada di situ. Wanita itu, yang berbicara dengan bahasa Gonja, sangat marah ketika teman saya mulai mengejek saya karena telah mengentutinya.” Kejadian ini terjadi pada setahun yang lalu. Dan beberapa bulan setelahnya, perut Charles mulai membengkak seperti wanita hamil. Charles sudah berkonsultasi dengan berbagai ahli spiritual yang dianjurkan oleh keluarganya, tapi anehnya, mereka semua meminta Charles untuk menemui wanita itu dan meminta maaf.
Unknown Renungan